LOCUSONLINE, JAKARTA – Krisis Moral Pola Pengasuhan: Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap nilai dan arah pendidikan di Indonesia, bukan sekadar seremoni rutin. Sayangnya, tahun ini kembali diwarnai ironi: meningkatnya kasus kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Meskipun sistem pengamanan semakin canggih—dengan biometrik, GPS, dan pengacak soal—praktik curang tetap merajalela, bahkan melibatkan orang tua. Minggu, 4 Mei 2025
Fenomena ini mencerminkan krisis moral dalam pola pengasuhan. Alih-alih menanamkan kejujuran, sebagian orang tua justru memfasilitasi jalan pintas demi prestasi semu.
“Pola asuh kita saat ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Devie Rahmawati, Associate Professor Vokasi UI. Ia merujuk pada riset Kay Hymowitz yang menyebut orang tua kini terlalu fokus pada hasil akademik, hingga mengabaikan nilai karakter. “Anak didorong untuk menjadi juara, bukan menjadi pribadi yang benar,” tambahnya.
Studi dari University of Southern Queensland (2023) juga menunjukkan bahwa gaya pengasuhan permisif berkaitan erat dengan meningkatnya perilaku tidak etis pada remaja.
Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Survei Pew Research Center (2024) menunjukkan perubahan besar dalam nilai-nilai pengasuhan global. Kejujuran dan tanggung jawab tergeser oleh ambisi dan pencitraan. Anak belajar dari teladan orang tua—bukan hanya dari sekolah atau teman.
Dalam menghadapi tantangan ini, beberapa sekolah mulai mengambil langkah berbeda. Salah satunya SMA Kemala Taruna Bhayangkara, yang menekankan keterlibatan keluarga dalam pendidikan karakter. “Kami percaya bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi anak,” kata Prof. Dedi Prasetyo, Ketua Yayasan Kemala Taruna Bhayangkara.
Seleksi masuk sekolah tersebut melibatkan wawancara orang tua, untuk memastikan nilai-nilai yang hidup dalam keluarga sejalan dengan visi pendidikan mereka. Pendekatan ini sejalan dengan riset dari Edutopia dan Ramagya School, yang menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga meningkatkan keberhasilan akademik dan karakter siswa secara signifikan.
Di tengah tantangan zaman, Hari Pendidikan Nasional menjadi momen penting untuk bertanya: Apakah kita sedang mendidik generasi pembelajar sejati, atau hanya melahirkan generasi pemoles hasil?
Pendidikan sejati tumbuh dari kejujuran, keteladanan, dan relasi yang hangat di rumah. Bukan dari nilai tinggi semata, melainkan dari keberanian menjadi orang tua yang mendidik dengan hati—meski di tengah dunia yang serba cepat dan instan. (Bhegin)