“Makanya saya ditegur Menteri Dalam Negeri, kenapa harga daging ayam di Garut tinggi? Ya karena pakan ternaknya muter-muter dulu. Coba kalau ada pabrik jagung di Garut,” katanya.
(Ironinya: jagung asli Garut ternyata butuh paspor dulu sebelum jadi pakan ayam Garut).
Lewat forum ini, Syakur mengundang investor membawa teknologi dan modal, khususnya untuk sektor pakan ternak.
“Saya minta Bapak/Ibu, mohon berkenan bawa teknologinya, investasi di Garut. Insyaallah pasokan jagung kita tidak kurang,” ucapnya.
Ia juga menyebut kebutuhan jagung akan melonjak seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Presiden Prabowo Subianto, yang otomatis mendorong konsumsi ayam pedaging dan telur.
(Satirnya: ternyata jalan menuju Garut Hebat dimulai dari perut anak sekolah yang kenyang ayam dan telur).
Syakur menutup pidatonya dengan optimisme. Menurutnya, kehadiran investor akan jadi motivasi Pemkab Garut untuk keluar dari jurang peringkat rendah.
Namun publik tentu bertanya: apakah cukup dengan undangan manis dan data suram, investor bakal datang berbondong-bondong? Atau Garut tetap jadi lumbung bahan mentah, sementara nilai tambah justru terus muter-muter keluar daerah?(Syuradi)