Program MBG yang digadang-gadang Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai “investasi masa depan” ternyata malah jadi “investasi rumah sakit”. Alih-alih menyehatkan generasi emas, anak-anak justru dijadikan kelinci percobaan proyek gizi kilat.
Bahkan seorang anggota DPRD Garut, yang minta namanya tidak ditulis, menyindir: “Kalau terus begini, lebih hemat sekalian bikin program Gratis Rawat Inap Nasional. Jadi siswa tinggal pilih: gratis makan atau gratis infus.”
Kasus keracunan MBG sudah berulang di berbagai daerah. Tapi, seperti menu kantin sekolah, masalahnya tetap sama: bahan baku diragukan, distribusi asal-asalan, pengawasan nyaris tak terasa.
Sampai kapan jargon “bergizi” dipakai sebagai hiasan, sementara yang gratis hanya derita?(Nuroni)