Presiden Prabowo Tancap Gas Atasi Keracunan Massal MBG, Anggaran Rp1,2 Triliun per Hari Tetap Jalan
Gelombang Kedua: SMK Cipatujah, Makan Gratis dengan Bonus Antrian Pustu
Tasikmalaya tak mau ketinggalan. Puluhan siswa SMK Negeri Cipatujah ikut terkapar setelah menikmati nasi, ayam, tahu, timun, dan jeruk. Kepala Desa Padawaras, Yayan Siswandi, mengatakan korban ditangani seadanya. “Ada yang di ambulans, ada di Pustu, nunggu antrian,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Cipatujah, Cepi Anwar, mengaku kewalahan. “Agak kelabakan, agak banyak, jadi nyicil datangnya,” ungkapnya. Bahkan enam siswa harus dialihkan ke Puskesmas Bantarkalong.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Alayubi, buru-buru menenangkan publik. “Semua pihak harus memperbaiki standar pelayanan MBG,” katanya. Kalimat yang mungkin sudah akrab di telinga publik: evaluasi datang lebih cepat daripada perbaikan nyata.
Gelombang Ketiga: SMPN 3 Banjar, Ayam Suwir Ajaib
Tak kalah heboh, SMPN 3 Banjar menyumbang 68 siswa sebagai pasien dadakan. Seorang siswa, Denisa, menceritakan gejalanya muncul tak lama setelah menyantap MBG. “Ayam suwirnya aneh, enggak ada rasa,” katanya.
Guru SMPN 3 Banjar, Diandini, menyebut sekolahnya menerima 800 paket MBG. “Sudah diingatkan, kalau was-was jangan dimakan. Ada ayam yang bau, ada yang enggak,” ujarnya. Sayangnya, sebagian siswa sudah telanjur jadi “tester tanpa kontrak.”