Dalam sesi akademik, mahasiswa diperkenalkan dengan sistem kokurikuler, ekstrakurikuler, dan struktur tridharma: pendidikan dan pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Neti menyebut tridharma sebagai “napas kehidupan kampus” yang membentuk intelektualitas sekaligus kepedulian sosial mahasiswa.
“Mahasiswa STAINUS tidak hanya didorong untuk cerdas secara akademik, tapi juga peka terhadap realitas sosial. Inilah makna sejati tridharma,” tegasnya.
Orbit juga dirancang interaktif. Para mahasiswa diminta menjawab dua pertanyaan reflektif tentang harapan mereka terhadap layanan kampus dan strategi beradaptasi di lingkungan perkuliahan. Menurut Neti, latihan ini penting untuk membiasakan mahasiswa berpikir kritis dan mengekspresikan gagasan secara tertulis sebuah fondasi utama dalam kehidupan akademik.
Pelayanan dan Komitmen Kampus
STAINUS Garut, kata Neti, terus memperkuat sistem administrasi, akademik, dan keuangan agar transparan dan mudah diakses mahasiswa. Pelayanan meliputi penggunaan laboratorium, KKN melalui LPPM, bimbingan akademik, akses perpustakaan dan PDDikti, hingga pengurusan her-registrasi dan ijazah.
Kampus juga memberikan mekanisme dispensasi bagi mahasiswa yang mengalami kendala keuangan. “Proses dilakukan profesional melalui pertimbangan dosen wali, ketua prodi, hingga pimpinan kampus,” ujarnya.
Melalui Orbit 2025, STAINUS menanamkan visi jangka panjang: melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga berperan dalam perubahan sosial. Nilai religius, kecerdasan digital, dan etika profesional dipadukan sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
“Kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya bicara soal masa kini, tapi juga siap menyongsong masa depan. Profesional, religius, futuristik, berkarakter, dan berdampak itulah jati diri mahasiswa STAINUS Garut,” pungkas Neti.(Bhegin)