“Data penerima kami dapat dari Yayasan Hijau Nusantara,” ungkap Nadia.
Dengan kata lain, prosesnya lebih cepat: yang sudah terdata duluan, yang bersih-bersih batuk dulu.
Dari pihak yayasan, Ruli Oktavian menilai pembangunan rumah sehat ukuran 2x9 meter adalah debut penting dalam melanjutkan program Desa Siaga Tuberkulosis sejak 2018. Ia menekankan masalah yang selama ini diabaikan: sebagian rumah penderita TBC kolektif sempit, minim cahaya, ventilasi pasrah yang lebih cocok jadi inkubator bakteri dibanding tempat tinggal.
“Kami temukan dalam radius 200 meter ada 13 rumah yang penghuninya penderita TBC. Lebih dari dua orang dalam satu rumah,” ungkap Ruli.
Fakta itu membuat kawasan Sukamenteri tampak seperti peta sebaran penyakit dalam buku kedokteran.
Ruli berharap Pemkab bersedia memasukkan kuota rutin khusus penderita TBC dalam Rutilahu.
“Misal ada 100 kuota, ya 5 rumah untuk TBC. Tepat sasaran,” katanya.
Sasaran yang dimaksud: rumah yang penutup jendelanya lebih sering rapat dibanding batuk warganya.