Syaiful menyebut, tekanan fiskal ini justru menjadi momentum untuk menggali potensi lokal dan mengasah kreativitas birokrasi.
“Penurunan ini menjadi cambuk bagi kita untuk berinovasi, menggali sumber pendapatan daerah, dan memastikan pelayanan publik tetap optimal,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa RAPBD 2026 disusun dengan prinsip efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas, selaras dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Fokusnya: digitalisasi pendapatan, reformasi belanja, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan penguatan SDM daerah.
Usai penyampaian nota keuangan, Syaiful menyambut pandangan fraksi-fraksi DPRD sebagai bentuk kemitraan konstruktif.
“Ini wujud nyata check and balance antara eksekutif dan legislatif demi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Menutup paparannya, Syaiful mengajak seluruh unsur daerah menjaga semangat kolaborasi.
“Dengan semangat Lampung Selatan Maju, Bismillah Bisa, mari kita wujudkan daerah yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing,” ucapnya.*****