Kamis, 4 Juni 2026

Panggung GOTO Berganti Pemeran, Istana Jadi Sutradara?

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Selasa, 25 November 2025 | 14:10 WIB




"Langkah ini sebenarnya untuk menjaga industri digital di Tanah Air tetap sehat dan kompetitif di kancah global," ujar seorang sumber di lingkaran Istana yang enggan disebutkan namanya.






Namun, intervensi pemerintah dalam keputusan bisnis swasta, apalagi dalam skala sebesar ini, kerap menuai pro dan kontra. Teuku Riefky, ekonom dari LPEM Universitas Indonesia, menilai bahwa campur tangan pemerintah dalam isu ini memiliki sisi positif dan negatif.





"Di satu sisi, pemerintah mungkin melihat potensi monopoli atau kehancuran industri jika dua raksasa ini terus berkompetisi secara tidak sehat. Merger bisa menciptakan efisiensi dan memperkuat posisi di pasar global," jelas Riefky kepada reporter, seperti dilansir Kompas Bisnis.





"Namun di sisi lain, intervensi bisa mengganggu mekanisme pasar yang sehat. Keputusan bisnis seharusnya berdasarkan pertimbangan komersial, bukan politik atau arahan dari pemerintah. Ini juga bisa menimbulkan kekhawatiran mengenai kepastian berusaha di Indonesia," tambahnya.





Siapa Investor Baru? Peran Singapura di Balik Layar





Muncul pertanyaan, apakah dengan konfirmasi merger oleh Istana, artinya Singapura—basis operasional Grab—akan menjadi investor baru bagi GoTo? Jawabannya belum tentu.





Fakta menunjukkan bahwa investor dari Singapura sudah lama terlibat di GoTo. SVF GT Subco, sebuah entitas yang berafiliasi dengan SoftBank Vision Fund asal Jepang namun berbasis di Singapura, tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar GoTo dengan porsi 7,65 persen. Artinya, kepentingan modal dari Singapura sudah ada jauh sebelum isu merger ini mencuat.





Dampak bagi Pekerja: Antara Harapan dan Kecemasan





Salah satu pertanyaan paling krusial yang muncul dari isu merger dan pergantian kepemimpinan ini adalah dampaknya bagi para pekerja, baik yang berstatus karyawan tetap maupun mitra driver dan kurir.





Pihak GoTo sendiri, dalam siaran persnya, menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas perusahaan dan melindungi seluruh stakeholder, termasuk karyawan dan mitra. Namun, dalam proses merger dua perusahaan seukuran GoTo dan Grab, rasionalisasi dan efisiensi biasanya menjadi langkah yang tak terhindarkan. Ini bisa berarti adanya pemangkasan posisi yang tumpang tindih atau bahkan PHK dalam skala besar.

Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X