Kabel tembaga bekas masih menjadi komoditas dengan nilai jual tinggi di pasar gelap. Begitu pula dengan pompa air, yang bisa dengan mudah dilego atau bahkan digunakan untuk keperlasan pribadi. Modusnya seringkali sederhana: menunggu malam hari atau saat taman sepi, lalu beraksi cepat memreteli instalasi yang baru dipasang.
Yang menarik, Pemkot sebenarnya sudah memasang CCTV di sejumlah titik. Tapi, Yuli dengan jujur mengakui keterbatasan teknologi. "CCTV itu ada, tapi penjagaan tidak bisa hanya mengandalkan kamera. Ini seperti punya senjata tapi tidak punya pasukan. Masyarakatlah pasukan terdepannya," katanya, menyampaikan pesan inti dari seluruh masalah ini: krisis kepemilikan bersama.
Ajakan yang Terdengar Klise, tapi Masih Relevan
Ajakan untuk ikut menjaga fasilitas publik mungkin terdengar klise dan terus diulang-ulang. Namun, dalam konteks Bandung yang sedang gencar membenah diri, ajakan ini adalah sebuah kebutuhan mendesak.
"Kalau taman kita bagus, bersih, tertib, yang menikmati juga masyarakat sendiri. Jadi kami menghimbau untuk bersama-sama menjaga, tidak merusak, tidak melakukan vandalisme, dan tidak mengambil fasilitas taman," pungkas Yuli.
Pesan ini bukan sekadar retorika pemerintah. Ini adalah seruan untuk membangun kesadaran kolektif. Ketika sebuah pompa atau kabel dicuri, yang dirugikan bukan hanya Pemkot, melainkan setiap warga yang kehilangan haknya untuk menikmati ruang publik yang layak.
Jadi, lain kali Anda berkunjung ke taman dan melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan diam saja. Laporkan. Karena melindungi taman kota sama artinya dengan melindungi hak kita sendiri untuk bernapas dan bersantai di ruang hijau yang indah. (**)