[Locusonline, YOGYAKARTA] – Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) tahun ini mengusung seruan tegas: "Satukan Aksi, Basmi Korupsi". Tema nasional yang dicanangkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menandai tekad kolektif bangsa Indonesia untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam memerangi praktik korupsi yang masih menjadi tantangan serius pembangunan.
Peringatan puncak tahun ini digelar di Yogyakarta dari tanggal 6 hingga 9 Desember, menggeser lokasi biasa di Jakarta. Pemilihan Kota Gudeg ini dimaksudkan untuk mendekatkan pesan integritas kepada akar rumput dan menyoroti peran budaya lokal dalam membangun ketahanan moral.
"Pemberantasan korupsi bukanlah tugas satu atau dua institusi saja. Ini adalah gerakan nasional yang membutuhkan kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh rakyat Indonesia," tegas pimpinan KPK dalam pernyataan resminya.
Dari Merida ke Yogyakarta: Perjalanan Komitmen Global
Hakordia ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperingati penandatanganan Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC) di Merida, Meksiko, pada 9-11 Desember 2003. Konvensi ini menjadi kerangka hukum internasional pertama yang mengakui korupsi sebagai kejahatan transnasional serius yang menggerogoti demokrasi, menghambat pembangunan, dan memperdalam ketimpangan sosial.
Secara global, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mengangkat tema "Uniting with Youth Against Corruption: Shaping Tomorrow's Integrity", yang menyoroti peran strategis generasi muda sebagai penjaga integritas masa depan. Tema ini selaras dengan semangat Indonesia untuk melibatkan semua generasi.
Logo dan Makna: Simbol Persatuan dalam Keberagaman
KPK telah merilis logo resmi Hakordia 2025 yang kaya simbolisme. Didominasi warna merah yang melambangkan keberanian dan tekad, logo ini menampilkan bentuk-bentuk yang saling terhubung, merepresentasikan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.
Unsur peta Indonesia yang menjadi latar menegaskan bahwa perang terhadap korupsi harus merata di seluruh wilayah Nusantara. "Logo ini adalah visualisasi dari semangat gotong royong. Keragaman budaya dan suku kita bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk bersatu melawan musuh bersama bernama korupsi," jelas juru bicara KPK.