Tiwi mengungkapkan bahwa Pengurus Dekranasda Kota Bandung mayoritas adalah pelaku usaha UMKM yang siap berkolaborasi. "Kami sempat berbincang, Pelalawan ternyata merupakan penghasil produk daun kelor. Sementara di Bandung, banyak pelaku usaha kami yang mampu mengolah daun kelor itu menjadi beragam produk bernilai tambah," jelas Tiwi.
Pernyataan ini membuka peta kolaborasi yang jelas: model hilirisasi berbasis keunggulan komparatif daerah. Pelalawan sebagai penyuplai bahan baku unggulan (daun kelor), dan Kota Bandung sebagai pusat pengolahan, desain, dan pemasaran yang mengubahnya menjadi produk konsumen bernilai tinggi seperti teh, serbuk, atau kosmetik alami. Kolaborasi semacam ini dapat menciptakan rantai nilai (value chain) yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
Langkah Awal Menuju Kemitraan Berkelanjutan
Kunjungan kerja ini ditutup dengan penyerahan cenderamata Batik Bono khas Pelalawan, simbol kekayaan budaya daerah yang juga memiliki potensi pasar besar. Pertemuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan seremonial, melainkan menjadi langkah konkret pertama dalam membangun kemitraan strategis.
Sinergi antara keunggulan bahan baku Pelalawan dan kapabilitas desain serta pengolahan Kota Bandung memiliki potensi besar untuk memajukan UMKM kedua daerah, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan menciptakan produk-produk unggulan baru yang kompetitif di pasar nasional bahkan internasional. Kolaborasi semacam inilah yang perlu terus dikembangkan untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa yang berlandaskan pada potensi dan kreativitas daerah.