Saat dikonfirmasi, Erma menegaskan bahwa ukuran 93S memang lebih mini dan peluang jadi siklonnya lebih kecil dibanding 91S di dekat Sumatra. Tapi jangan salah: sistem kecil juga bisa ngeselin, apalagi kalau posisinya tepat.
“Badai tropis 93S inilah yang berpeluang mendarat di wilayah NTT,” ujarnya.
Analisis atmosfer dasarian II Desember 2025 sampai dasarian I Januari 2026 menunjukkan dua area pusaran kuat. Pusaran di barat hanya berkutat di laut, tapi pusaran timur meliputi Laut Flores, NTT, Kupang, hingga Timor Leste punya potensi lebih gede jadi badai yang beneran niat.
Erma mengimbau pemerintah daerah NTT untuk mulai gerak dari sekarang, bukan nunggu sampai angin ngetuk pintu rumah.
BMKG mengonfirmasi keberadaan 93S yang kini mondar-mandir di selatan NTB. Meski pergerakannya diperkirakan menjauhi Indonesia, efek sampingnya tetap nyusahin hujan sedang-lebat di Bali, NTB, dan NTT, plus gelombang tinggi sampai 2,5 meter.
“Potensi dampak tidak langsung berupa hujan sedang hingga lebat dan gelombang tinggi tetap harus diwaspadai,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Awan konvektif di sekitar 93S masih belum rapi ibarat kelompok dance yang belum hafal koreografi sehingga penguatannya diprediksi lambat dalam 24 jam. Tapi dalam 48-72 jam, sistem ini bisa mulai serius dan membentuk sirkulasi yang lebih stabil.
Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menyebut 93S terus bergerak perlahan ke barat daya dan diprediksi tidak berdampak langsung ke daratan Indonesia. Tetap saja, “tidak berdampak langsung” bukan berarti “bebas dari cerita”.