[Locusonline.co] Bandung - Evaluasi terhadap insinerator di kawasan rumah deret Tamansari oleh Wali Kota Bandung mengungkap mesin itu tak berfungsi optimal. Namun, justru dari kawasan inilah muncul model pengelolaan sampah organik skala kelurahan yang mendapat pujian pemerintah sebagai inisiatif berkelanjutan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui kapasitas insinerator di sana relatif kecil. "Kapasitasnya kecil dan kelihatannya belum optimal. Kalau memang diperlukan, bisa saja nanti mesin insineratornya diganti," ujarnya.
Di sisi lain, ia memberikan apresiasi tinggi kepada inisiatif warga RW 15 Tamansari. RW tersebut telah menjalankan sistem sentralisasi sampah organik yang menerima kiriman dari seluruh RW di Kelurahan Tamansari. Sistem ini dipandang sebagai langkah maju dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas. Dengan sekitar 20 RW yang masing-masing menyumbang rata-rata 25 kilogram sampah organik per hari, total yang bisa diolah mencapai setengah ton per hari. "Ini sangat mendukung rencana kita untuk program pengolahan gas dari sampah. Sistemnya sudah ada, tinggal kita sempurnakan," jelas Farhan.
Latar Belakang Perumahan Vertikal dan Tantangan Pengelolaan Sampah
Evaluasi ini dilakukan dalam konteks tingginya volume sampah di Bandung. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 menunjukkan Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.496 ton sampah per hari, dengan 60% berasal dari rumah tangga. Meski 85,59% sampah telah terkelola, masih ada celah 14,41% yang menjadi tantangan serius.
Pemukiman padat seperti rumah deret Tamansari dan rumah susun menghadapi masalah spesifik. Kajian di Rusun Sarijadi, Bandung, menemukan sistem pengelolaan sampah di perumahan vertikal seringkali disamakan dengan rumah tunggal, sehingga tidak optimal. Kendala utama termasuk sarana prasarana yang kurang lengkap, perilaku penghuni, dan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang belum menerapkan pengurangan sampah.
| Faktor | Dampak terhadap Pengelolaan Sampah |
|---|---|
| Sarana Prasarana Kurang Lengkap | TPS yang tidak memadai, kurangnya fasilitas pemilahan dan daur ulang. |
| Perilaku Penghuni | Kurangnya kesadaran memilah sampah dari sumbernya. |
| Model Pengelolaan Tidak Spesifik | Sistem pengelolaan yang sama dengan rumah tunggal, tidak sesuai pola hunian vertikal/ padat. |
Debat Insinerator: Solusi atau Masalah Baru?
Upaya Pemkot memperbanyak insinerator sebagai solusi cepat menuai kontroversi. Pada Januari 2026, DLH Kota Bandung merencanakan penambahan 25 unit insinerator baru dengan anggaran Rp29 miliar. Jika terealisasi, total insinerator yang dioperasikan akan meningkat dari 15 unit menjadi 40 unit.
Namun, rencana ini mendapat tentangan keras dari DPRD Kota Bandung. Anggota Komisi III DPRD, Aan Andi Purnama, menilai insinerator berisiko bagi lingkungan dan berpotensi menjadi pemborosan anggaran. Ia mendesak Pemkot mencari alternatif lain, melakukan kajian komprehensif, dan memperdalam sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari penolakan di tingkat akar rumput.