Kamis, 4 Juni 2026

Tanah Bergerak, Sekolah Menyingkir: Murid Banjarwangi Belajar di Tenda Sambil Menunggu Kajian Selesai

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:52 WIB
Gambar Iluistrasi Ai
Gambar Iluistrasi Ai



Guru MI Darul Hikmah, Siti Saadah, menyebutkan bahwa memaksakan belajar di ruang kelas yang retak bukanlah pilihan rasional. Risiko keselamatan dianggap terlalu besar dibandingkan manfaat mempertahankan suasana “sekolah normal”.





“Bangunan sudah rusak. Kalau dipaksakan, murid dan guru takut. Itu berisiko, jadi terpaksa belajar di tenda,” katanya.





Namun, ia mengakui pembelajaran di tenda darurat tidak berjalan optimal. Keterbatasan fasilitas, kondisi lingkungan, hingga cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi para guru dalam menyampaikan materi.





Keluhan serupa datang dari murid. Adil, salah satu siswa, mengaku kesulitan berkonsentrasi karena suasana belajar yang panas, becek saat hujan, dan bising akibat lalu lintas kendaraan. Kondisi makin rumit karena seluruh siswa, dari jenjang PAUD hingga kelas VI, harus belajar bersama dalam satu tenda.





“Tidak nyaman. Panas, berisik, kalau hujan becek. Semua siswa juga disatukan,” ujarnya.





Sementara kajian masih berjalan dan laporan teknis dinanti, murid-murid Banjarwangi belajar dengan realitas baru: memahami pelajaran di bawah tenda, sambil berharap tanah segera berhenti bergerak dan keputusan tak ikut berlarut-larut.*****


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X