[Locusonline.co] Kabupaten Bandung Barat — Retakan dalam tata kelola ruang dan lingkungan akhirnya runtuh dalam wujud bencana nyata. Bencana aliran lumpur (mudflow) dahsyat yang menyapu Kampung Sukadami, Lembang, dan Cisarua pada Sabtu dini hari (24/1/2026), bukan sekadar musibah alam biasa. Di balik ratusan korban jiwa, tragedi ini menampakkan benturan fatal antara aktivitas manusia yang tak terkendali dengan kondisi geologi yang rapuh di lereng Gunung Burangrang.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan tegas menyoroti akar masalahnya. “Lokasi longsor berada di daerah kemiringan yang seharusnya ini daerah hutan rimbun, yang berubah menjadi perkebunan sayuran,” ujarnya, Sabtu malam . Pernyataan ini dibenarkan Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, yang mengonfirmasi perubahan masif dari lahan tanaman keras menjadi kebun palawija di kawasan tersebut .
Namun, analisis mendalam dari pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, mengungkap mekanisme bencana yang jauh lebih kompleks dan mengerikan daripada sekadar longsor lokal .
Anatomi Bencana: Dari Hulu yang Tersumbat ke Hilir yang Tertimpa
Menurut Dr. Imam, peristiwa ini adalah aliran lumpur atau mudflow yang dipicu oleh jebolnya bendungan alam (landslide dam) di hulu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang . Prosesnya adalah sebagai berikut:
Mekanisme ini menjelaskan mengapa rumah-rumah warga, yang tidak berada di lereng curam sekalipun, bisa tersapu. “Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” jelas Imam . Aliran yang terbentuk bukan air biasa, melainkan campuran lumpur, pasir, bongkah batu, dan kayu yang memiliki daya rusak sangat tinggi .
Potensi Ancaman yang Belum Berakhir dan Tanda Peringatan Alam
Yang lebih mencemaskan, ancaman belum berakhir. Tim ahli masih menemukan indikasi sumbatan-sumbatan serupa di bagian hulu sungai lainnya . Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur, bendungan-bendungan alam ini berpotensi jebol kembali dan mengirimkan kiriman lumpur ke hilir .
Dr. Imam juga mengingatkan pentingnya mengenali tanda peringatan alam. “Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut atau menghilang saat hujan lebat, masyarakat harus waspada. Itu menandakan adanya pembendungan di hulu,” tegasnya . Tanda ini adalah alarm untuk segera menjauh dari alur sungai.