Para praktisi seni pun melihat potensi besar. Aktor senior Adi Bing Slamet yang hadir di Ponpes Dzikir Al Fath menilai pesantren telah memiliki ekosistem budaya dan ilmu yang lengkap. "Sangat bagus jika syiar Pak Kiai ke daerah yang belum tersentuh itu dijadikan dokumenter," ujarnya.
Dakwah di Era Digital: Menjawab Tantangan dengan Konten Positif
Gerakan santri menjadi sineas ini muncul dalam konteks dakwah yang tengah bertransformasi. Jika metode ceramah konvensional dinilai mulai kehilangan daya tarik di tengah gempuran media digital, kehadiran konten film dan audio-visual yang menarik justru menjadi solusi. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok kini menjadi mimbar baru yang menjangkau generasi muda secara lebih efektif.
Namun, ruang digital juga sarat dengan konten negatif. Karena itu, kehadiran karya-karya film santri yang mengedepankan nilai Islam yang moderat, inklusif, dan penuh kedamaian menjadi semakin krusial. Seperti yang ditegaskan dalam sebuah diskusi film di UIN Bandung, dakwah digital harus mampu membangun narasi yang rahmatan lil ‘alamin dan menjadi alat untuk melawan disinformasi.
Dengan memadukan ketekunan intelektual khas pesantren, kekuatan narasi visual, dan dukungan sistemik pemerintah, langkah santri masuk ke dunia film bukan hanya tentang mencipta karya seni. Ini adalah tentang merekam jejak peradaban, memperkuat identitas budaya, dan yang terpenting, menyebarkan pesan kebaikan dengan cara yang sesuai zamannya—sebuah dakwah yang tak lekang oleh waktu. (**)