Kamis, 4 Juni 2026

Pemkot Bandung Setop Insinerator, Sampah Dialihkan ke RW

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Rabu, 4 Februari 2026 | 16:15 WIB
img generated by neng 'ai
img generated by neng 'ai



Untuk mewujudkan hal ini, DLH Kota Bandung telah meluncurkan program “Gaslah” yang menempatkan petugas pengolahan sampah khusus di tingkat Rukun Warga (RW). Saat ini, telah ada petugas yang ditugaskan di 1.596 RW di seluruh kota untuk memandu dan melakukan pemilahan serta pengolahan sampah organik di tingkat komunitas. Setiap RW ditargetkan mampu mengolah minimal 25 kilogram sampah organik per hari menjadi produk yang lebih bermanfaat, seperti kompos.





Strategi Komprehensif dan Peran Masyarakat





Selain program Gaslah, DLH Kota Bandung juga menggenjot sejumlah strategi pendukung:






  1. Optimasi Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle): Mendorong praktik mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah secara lebih masif.




  2. Pengaktifan Kembali Bank Sampah: Memfungsikan bank sampah sebagai pusat pengumpulan dan pengelolaan awal sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi.




  3. Peningkatan Kapasitas Fasilitas: Meningkatkan peran dan kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS 3R dengan mengintegrasikan berbagai metode ramah lingkungan, termasuk potensi pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF) yang tidak melalui proses pembakaran langsung.




  4. Edukasi dan Keterlibatan Publik: Salman Faruq secara khusus mengimbau masyarakat untuk berperan aktif. “Kunci utamanya ada di rumah. Kami harap masyarakat semakin bijak memproduksi sampah, mengurangi dari sumber, dan melakukan pemilahan,” imbaunya.





Berikut langkah konkret yang dapat dilakukan rumah tangga:






  • Sampah Organik (sisa makanan, daun): Diolah mandiri di rumah menjadi kompos (home composting).




  • Sampah Anorganik Bernilai (plastik, kertas, logam): Disetorkan ke bank sampah terdekat untuk didaur ulang.




  • Sampah Residu (yang tidak bisa didaur ulang): Dibuang ke TPS dengan volume yang sudah jauh berkurang.





Dampak dan Langkah Ke Depan





Kebijakan penghentian teknologi termal ini diprediksi akan mengubah lanskap pengelolaan sampah Bandung dalam jangka menengah. Di satu sisi, langkah ini merupakan komitmen nyata terhadap perlindungan lingkungan dan kesehatan warga dari polusi udara. Di sisi lain, tantangan bergeser pada bagaimana mengelola aliran sampah yang sebelumnya diolah dengan insinerator.





Kesuksesan strategi baru ini sangat bergantung pada efektivitas program Gaslah di tingkat RW, partisipasi aktif masyarakatakat dalam memilah dan mengurangi sampah, serta kesiapan infrastruktur pengolahan alternatif seperti TPS 3R dan TPST. Pemkot Bandung tampaknya memilih jalan transformasi yang berkelanjutan, meski mungkin lebih menantang, dibandingkan dengan solusi pembakaran yang cepat namun berisiko tinggi bagi lingkungan.





Dengan arahan ini, Bandung berkomitmen untuk beralih dari paradigma "buang dan bakar" menuju ekonomi sirkular yang mengutamakan "pengurangan, pemilahan, dan daur ulang" sebagai pilar utama kebersihan dan keberlanjutan kota. (**)


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X