Kamis, 4 Juni 2026

Gaslah, Jurus Baru Bandung Lawan Tumpukan Sampah

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Kamis, 5 Februari 2026 | 05:44 WIB




  • Penampungan terpusat di tingkat kelurahan untuk RW yang belum memiliki fasilitas.




  • Dukungan logistik seperti maggot (larva Black Soldier Fly) untuk percepatan penguraian sampah organik.




  • Sentralisasi pengolahan di lokasi strategis yang memiliki lahan cukup.





Siklus Ekonomi Sirkular: Dari Sampah ke Pangan





Yang membedakan strategi ini dari program sejenis adalah integrasinya yang erat dengan program unggulan kota lainnya. Farhan merancang sebuah siklus ekonomi sirkular terintegrasi:






  1. Gaslah & Kang Pisman: Mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.




  2. Buruan Sae (Pertanian Urban): Menggunakan kompos tersebut untuk menyuburkan lahan pertanian kota.




  3. Dapur Dahsat (Ketahanan Pangan): Hasil panen dari Buruan Sae digunakan untuk memasak di dapur-dapur komunitas.





“Kompos hasil pengolahan sampah harus 100% dimanfaatkan oleh Buruan Sae. Hasil panen Buruan Sae harus dimanfaatkan oleh Dapur Dahsat. Sisa sampahnya kembali diolah. Ini siklus yang sempurna,” jelas Farhan.





Untuk menjamin keberlangsungan siklus ini, Pemkot berjanji akan menyerap 100% kompos yang dihasilkan oleh warga, asalkan diinformasikan terlebih dahulu. Hal ini menghilangkan kekhawatiran warga tentang pasar untuk hasil pengolahan mereka.





Analisis: Peluang dan Tantangan Menuju Kota Bebas Sampah Mandiri





Strategi berbasis wilayah ini memiliki potensi disruptif yang besar. Jika berhasil, Bandung tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada TPA, tetapi juga:






  • Mengurangi emisi karbon dari transportasi sampah jarak jauh.




  • Menciptakan ekonomi lokal baru di sekitar pengelolaan sampah dan pertanian urban.




  • Membangun ketahanan komunitas melalui kemandirian pengelolaan lingkungan.





Namun, jalan menuju kesana penuh tantangan. Keberhasilan mutlak bergantung pada:






  1. Konsistensi dan Disiplin Warga: Perubahan perilaku dari membuang menjadi memilah dan mengolah adalah fondasi utama.




  2. Kapasitas dan Keberlanjutan Gaslah: Petugas ini perlu didukung dengan pelatihan, insentif, dan sistem manajemen yang jelas.




  3. Koordinasi Lintas Program: Integrasi Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat membutuhkan koordinasi administratif dan logistik yang sangat kuat antar dinas.





Dengan mengumumkan target menjadi "kota pertama", Pemkot Bandung telah memasang target yang tinggi. Gaslah bukan sekadar program tambahan, melainkan sebuah gerakan transformasi sosial-lingkungan yang menjadikan setiap warga dan setiap RW sebagai pahlawan lingkungan bagi kotanya sendiri. Keberhasilan atau kegagalan strategi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kota-kota lain di Indonesia yang bergumul dengan masalah sampah yang sama. (**)


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X