[Locusonline.co] Bandung — Di tengah tuntutan layanan kesehatan yang semakin kompleks, Puskesmas UPTD Ibrahim Adjie di Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, berhasil mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Kunci keberhasilannya terletak pada dua hal mendasar yang sering kali menjadi keluhan publik: sikap ramah petugas dan ketersediaan layanan 24 jam yang benar-benar berfungsi.
Puskesmas ini membuktikan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tidak harus identik dengan antrean panjang, jam operasional terbatas, dan pelayanan yang kaku. Sebaliknya, mereka menghadirkan model layanan yang responsif dan berpusat pada pasien (patient-centered care).
Layanan 24 Jam: Lebih dari Sekadar 'Buka', Tepat Waktu Saat Dibutuhkan
Keunggulan paling menonjol yang dirasakan warga adalah ketersediaan layanan selama 24 jam. Bagi Rusman, salah seorang warga, hal ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan solusi kritis di saat darurat.
“Dengan adanya layanan 24 jam, warga bisa berobat kapan saja, baik pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Ini sangat membantu saat kondisi kesehatan tidak bisa diprediksi,” ujar Rusman. Pernyataan ini menggarisbawahi fungsi Puskesmas sebagai safety net kesehatan yang andal di luar jam kerja klinik swasta.
Bagi kelompok pekerja dan ibu rumah tangga, fleksibilitas waktu ini sangat berarti. Vina, warga lain, mengungkapkan, “Tidak semua pasien bisa datang ke puskesmas di pagi hari. Dengan adanya layanan hingga sore atau malam, kami tetap bisa berobat setelah jam kerja.” Layanan ini secara efektif menghilangkan barrier (hambatan) akses bagi masyarakat urban yang sibuk.
Pelayanan Ramah: Mengembalikan "Rasa Manusiawi" dalam Interaksi Medis
Di luar faktor waktu, sentuhan manusiawi menjadi penilaian utama. Warga secara konsisten memuji keramahan, kesigapan, dan perhatian para perawat dan tenaga kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie.
“Para perawatnya ramah serta benar-benar memperhatikan kebutuhan pasien,” tambah Rusman. Dalam konteks layanan kesehatan yang sering kali terasa mekanistik, pendekatan komunikasi empatik dan pelayanan yang personal ini memberikan dampak psikologis yang positif, mengurangi kecemasan pasien, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan.