37 Tahun MHABD di Pendopo: Wali Kota Farhan Tegaskan Anak Yatim dan Duafa adalah "Mercusuar Moral" Bandung
[Locusonline,co] Bandung – Sebuah tradisi kebaikan yang telah melampaui tiga dekade kembali digelar. Mimbar Hiburan dan Amal Bagi Dhuafa (MHABD) memasuki usianya yang ke-37, konsisten hadir di Pendopo Kota Bandung sebagai ruang kebersamaan antara pemerintah, seniman, dan warga yang membutuhkan. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan untuk pertama kalinya dapat hadir langsung dalam acara yang telah berlangsung sejak 1990 ini.
"Acara ini sudah menjadi tradisi selama 37 tahun berturut-turut sejak tahun 1990 dan selalu dilaksanakan di Pendopo. Akhirnya saya bisa hadir," ujar Farhan dengan penuh haru, Rabu (11/2).
Anak Yatim dan Duafa: Bukan Sekedar Penerima, Tapi Penjaga Moral Kota
Dalam sambutannya, Farhan melontarkan pernyataan yang menjadi benang merah seluruh kegiatan: "Anak yatim dan duafa adalah mercusuar moral Kota Bandung."
Pernyataan ini mengandung pergeseran paradigma yang fundamental. Kelompok rentan tidak lagi diposisikan sebagai sekadar objek belas kasihan atau penerima pasif bantuan sosial. Sebaliknya, keberadaan merekalah yang menjadi cermin dan pengingat bagi masyarakat yang lebih beruntung tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Kehadiran mereka—dan kepedulian terhadap mereka—adalah kompas moral yang menunjukkan apakah sebuah kota masih berjalan di rel kemanusiaan atau telah tersesat dalam ketimpangan.
Fenomena Gunung Es: Ketimpangan di Balik Angka Makro yang Membaik
Farhan tidak menutup mata terhadap realitas pahit yang mengiringi perbaikan statistik. Ia secara blak-blakan menyoroti paradoks pembangunan yang sering tersembunyi di balik data makro ekonomi.
Di satu sisi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita meningkat, angka pengangguran dan kemiskinan menunjukkan tren penurunan. Namun di sisi lain, jarak antara yang kaya dan yang miskin justru melebar.