Tiga Prioritas: Pemerataan, Inovasi, Integritas
Menghadapi realitas tersebut, Farhan memerintahkan 154 pejabat yang baru dilantik untuk fokus pada tiga agenda besar:
| Prioritas | Implementasi | Indikator Keberhasilan |
|---|---|---|
| Pemerataan Layanan Publik | Menjangkau wilayah pinggiran dan kelompok rentan | Tidak ada kelurahan yang tertinggal dalam akses layanan dasar |
| Optimalisasi Inovasi | Digitalisasi pelayanan, efisiensi birokrasi, solusi kreatif atas masalah klasik | Peningkatan kepuasan masyarakat, pengaduan menurun |
| Penguatan Integritas | Anti-korupsi, disiplin, pelayanan tanpa calo, transparansi anggaran | Opini WTP, tidak ada OTT, kepercayaan publik naik |
"Integritas adalah wajah kita di mata masyarakat. Ketika integritas kita buruk, maka wajah kita pun buruk," tegas Farhan, mengingatkan bahwa kepercayaan publik adalah modal politik yang paling mahal dan paling rapuh.
Profil Pejabat yang Dilantik
Sebanyak 154 pejabat yang dilantik terdiri dari Pejabat Administrator (eselon III), Pejabat Pengawas (eselon IV), dan 1 Pejabat Fungsional dari jalur non-struktural. Beberapa nama strategis yang mengisi posisi kunci:
| Nama | Jabatan Baru | Instansi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Tubagus Agus Mulyadi | Kepala Bagian Administrasi Pembangunan | Sekretariat Daerah | Mengelola perencanaan dan monitoring pembangunan |
| Dicky Wisnumulya | Kepala Bagian Perekonomian | Sekretariat Daerah | Strategi pemulihan ekonomi pascapandemi |
| Bariati Ratna Aju | Sekretaris Dinas Ketenagakerjaan | Dinas Ketenagakerjaan | Fokus pada penurunan angka pengangguran |
| Yana Supriatma | Kepala Bagian Kerja Sama | Sekretariat Daerah | Kolaborasi dengan swasta, BUMN, dan internasional |
| Edi Suparyoto | Sekretaris Dinas Pendidikan | Dinas Pendidikan | Peningkatan kualitas pendidikan dasar |
| Dedi Priyadi Nugraha | Pembina Industri Ahli Madya | Disdagin | Penguatan UMKM dan industri kreatif |
Catatan penting: Pelantikan Pejabat Fungsional Pembina Industri menandai pergeseran paradigma dari struktural ke fungsional. Ini adalah jalur karier berbasis kompetensi, bukan hierarki jabatan. Dedi Priyadi Nugraha tidak lagi sekadar "pejabat", tetapi "ahli" yang diakui kapasitas teknisnya.
Filosofi Kepemimpinan Farhan: Antara "Bianglala" dan "Akur"
Dalam berbagai kesempatan, Farhan kerap menyelipkan filosofi kepemimpinan yang tidak biasa. Dua di antaranya relevan dengan momen pelantikan ini:
1. Filosofi "Bianglala" – Pemimpin harus mampu melihat dari ketinggian, memahami hubungan antar masalah yang tidak terlihat dari permukaan. Kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan bansos, tapi dengan konektivitas antara pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan infrastruktur.
2. Filosofi "Akur" – Bukan sekadar rukun, tetapi keberanian untuk menyelesaikan perbedaan secara dewasa. Farhan mengingatkan bahwa birokrasi sering terjebak pada "etika palsu": saling diam, tidak konfrontatif, tetapi juga tidak produktif. Ia mendorong debat substansi, bukan konflik personal.
Pelantikan Biasa, Pesan Luar Biasa
Jika dilihat dari permukaan, pelantikan 154 pejabat adalah rutinitas tahunan. Namun, konteks dan isi pesan Farhan membuat momen ini berbeda: