| Bupati Ke- | Nama | Masa Jabatan |
|---|---|---|
| III | Raden Adipati Suryanatakusuma | 1833–1871 |
| IV | Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII | 1871–1915 |
| V | Raden Adipati Aria Soeria Kartalegawa | 1915–1929 |
| VI | Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa | 1929–1944 |
| XIII | Raden Gahara Wijaya Surya | 1960–1966 |
Di lokasi yang sama, juga dimakamkan para Wedana, Patih, dan Penghulu yang turut membangun peradaban Garut dari masa ke masa.
"Mereka adalah tokoh besar yang jasanya tak terpisahkan dari sejarah Garut. Ziarah ini bukan sekadar doa, tapi pengingat bahwa kepemimpinan adalah amanah," ujar Totong.
Makna di Balik Rangkaian: Jati Diri, Keberlanjutan, dan Harapan
Peringatan HJG ke-213 tahun ini berbeda. Pemerintah Kabupaten Garut tidak hanya merayakan usia, tetapi menggali akar sejarah untuk melompat lebih jauh ke masa depan.
Beberapa pesan strategis yang dapat ditangkap:
✅ Sejarah sebagai fondasi pembangunan — Bupati Syakur menegaskan bahwa kemajuan tanpa akar budaya akan kehilangan arah.
✅ Generasi muda sebagai pewaris peradaban — Pelibatan siswa SMPN 1 Garut adalah investasi kesadaran sejarah jangka panjang.
✅ Kepemimpinan adalah mata rantai — Dari RAA Adiwidjaya hingga Abdusy Syakur Amin, semua adalah bagian dari satu garis besar perjuangan membangun Garut.
✅ Kebudayaan bukan pelengkap, tapi penggerak — Disparbud dan Dispusip didorong untuk terus mendokumentasikan, merawat, dan menarasikan sejarah secara modern.
Garut Bukan Sekadar Nama, Tapi Peradaban yang Terus Hidup
"Semoga ini menjadi langkah awal yang mulia untuk menjaga dan menguatkan jati diri Garut. Agar tetap lestari, agar mendatangkan keberkahan bagi kita semua."
Demikian pesan Beni Yoga Gunasantika di akhir laporannya. Dan memang, di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik, Garut butuh jiwa. Dan jiwa itu ditemukan kembali di Sumur Ci Garut, di Titik Nol, dan di pusara para pemimpin terdahulu.