Cakupan Luas, Pemetaan Risiko Lebih Tajam
Hingga Februari 2026, program ini telah menjangkau 82 dari 151 kelurahan di Kota Bandung. Cakupan ini menjadi fondasi pemetaan risiko yang lebih tajam dan terukur, karena setiap wilayah memiliki karakter ancaman yang berbeda. Beberapa kawasan menghadapi risiko banjir akibat sedimentasi dan penyempitan drainase. Wilayah lain rawan longsor karena kondisi kontur tanah. Di kawasan padat penduduk, risiko kebakaran dan penyebaran penyakit menjadi perhatian utama.
Pendekatan berbasis data ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran. Bukan kebijakan seragam, melainkan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Menyisir Persoalan dari Hulu ke Hilir
Lebih jauh, pemetaan tidak berhenti pada potensi bencana. Pemerintah juga menginventarisasi persoalan sosial dan lingkungan yang memperbesar kerentanan warga, antara lain:
| Aspek | Fokus Pendataan |
|---|---|
| Sanitasi & Drainase | Kualitas saluran air, titik rawan genangan |
| Bangunan Liar | Bangunan yang menghambat aliran air |
| Permukiman | Rumah tidak layak huni, kepadatan penduduk |
| Kesehatan Masyarakat | Risiko penyakit seperti TBC dan DBD |
| Data Sosial | Tingkat kemiskinan, kepesertaan jaminan kesehatan |
| Infrastruktur Dasar | Penerangan jalan, akses air bersih |
Pendekatan ini menjadikan Siskamling Siaga Bencana sebagai instrumen terpadu yang menghubungkan mitigasi bencana dengan kebijakan sosial, kesehatan, dan infrastruktur. Tidak ada lagi sekat-sekat sektoral; semua masalah dilihat dalam satu kesatuan yang saling terkait.
Mekanisme Tindak Lanjut Cepat: Memotong Birokrasi Panjang
Keunggulan utama program ini terletak pada mekanisme tindak lanjut cepat. Dalam setiap kunjungan, wali kota didampingi anggota DPRD serta perangkat dinas teknis agar keluhan warga dapat langsung ditangani. Permasalahan ringan seperti saluran air tersumbat atau lampu jalan mati diselesaikan hari itu juga. Isu yang memerlukan proses administratif segera dijadwalkan untuk eksekusi berikutnya.