- Memperbaiki tata kelola penganggaran agar lebih transparan dan akuntabel
- Memperkuat sistem pengawasan proyek untuk memastikan kesesuaian antara rencana dan realisasi
- Meningkatkan koordinasi lintas sektor agar tidak terjadi tumpang tindih atau kebocoran anggaran
Dengan lonjakan anggaran lebih dari dua kali lipat, tekanan untuk menghasilkan infrastruktur berkualitas menjadi semakin besar. Publik tentu akan mengawasi setiap rupiah yang dibelanjakan.
Sampah: Bukan Hukuman, Tapi Dukungan Terukur
Selain infrastruktur jalan, isu pengelolaan sampah juga menjadi sorotan utama. Farhan menilai, arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup bukanlah bentuk hukuman, melainkan dukungan agar pengelolaan sampah di Kota Bandung lebih terukur dan ramah lingkungan.
Saat ini, terdapat parameter kuantitatif yang jelas dalam menilai kualitas pengelolaan sampah, meliputi:
- Scoring penganggaran (seberapa besar alokasi untuk sektor lingkungan)
- Kualitas sumber daya manusia (kompetensi petugas dan pengelola)
- Ketersediaan lahan (untuk tempat pengolahan sampah terpadu)
- Kualitas pengolahan sampah (efektivitas daur ulang dan pengurangan residu)
Farhan mengakui bahwa Kota Bandung masih memiliki skor rendah dalam aspek kapasitas SDM, partisipasi masyarakat, serta kualitas daur ulang. Ini menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
"Bukan hanya sampah diolah, tapi bagaimana prosesnya ramah lingkungan dan melibatkan banyak orang, " jelasnya.
Target: Kurangi Setoran ke TPA Sarimukti, Dorong Ekonomi Sirkular
Dengan pembenahan sistem yang lebih terukur, pemerintah menargetkan pengurangan signifikan setoran sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Langkah ini tidak hanya akan memperpanjang umur TPA, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi sirkular di tingkat lokal.