Kamis, 4 Juni 2026

Bupati Garut Soroti Kemiskinan di Garut Selatan, Dorong Akselerasi Pembangunan dan Industri Lokal

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Selasa, 24 Februari 2026 | 14:11 WIB



Masalah Klasik: Hilirisasi yang Lemah





Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyoroti kelemahan mendasar yang selama ini menghambat perkembangan ekonomi Garut Selatan: lemahnya proses hilirisasi. Komoditas lokal selama ini dijual mentah tanpa melalui proses pengolahan yang memberikan nilai tambah.





Akibatnya, petani dan peternak hanya mendapatkan margin tipis, sementara nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh pelaku usaha di luar daerah. Pola ini harus segera diubah jika ingin kesejahteraan masyarakat meningkat signifikan.





Jagung: Komoditas "Seksi" yang Jadi Kunci





Secara spesifik, Bupati Garut mengidentifikasi jagung sebagai komoditas paling strategis untuk saat ini. Bukan tanpa alasan, jagung menjadi bahan baku utama pakan ternak yang sangat dibutuhkan untuk mendukung program prioritas nasional.





"Tapi dari sekian komoditi itu saya melihat ada yang potensial yaitu jagung. Karena jagung ini sekarang lagi 'seksi', kenapa 'seksi'? Adalah komoditi yang diperlukan untuk mendukung dari bidang yang lain," lanjutnya.





Program Makanan Bergizi Gratis yang digalakkan pemerintah pusat membutuhkan pasokan telur dan daging ayam dalam jumlah besar. Di sinilah jagung memainkan peran kunci sebagai komponen utama pakan ternak.





Terobosan: Adopsi Model Ekosistem Terintegrasi ala Blitar





Sebagai solusi jangka panjang, Syakur berencana mengadopsi model ekosistem terintegrasi seperti yang telah sukses diterapkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Konsep ini menyatukan tiga komponen dalam satu kawasan:






  1. Lahan pertanian jagung sebagai penghasil bahan baku




  2. Pabrik pakan sebagai unit pengolahan




  3. Sentra peternakan ayam sebagai pengguna pakan





"Saya lihat di Blitar itu katanya mereka sudah ada ekosistem, jadi pakannya di situ, peternakannya di situ sehingga ongkos produksi jadi murah. Ketika dijual secara keseluruhan, harga telur di Blitar lebih murah dari Garut karena semua tergabung terintegrasi," ujar Abdusy Syakur.





Dengan model ini, biaya produksi bisa ditekan secara drastis karena tidak ada biaya transportasi berlapis dan rantai pasok yang panjang. Petani jagung mendapatkan kepastian pasar, pabrik pakan mendapatkan bahan baku segar dengan harga kompetitif, dan peternak mendapatkan pakan murah yang meningkatkan daya saing produk.

Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X