Pengalaman lapangan pertamanya dimulai dengan keterlibatan dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) pada akhir 1950-an. Inilah awal mula karier militer Try Sutrisno yang gemilang di angkatan darat.
Perjalanan Karier: Dari Ajudan Presiden hingga Panglima ABRI
Karier Try Sutrisno mengalami lompatan strategis pada tahun 1974 ketika ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Kedekatan ini memberikan Try pemahaman mendalam mengenai manajemen negara dan politik nasional.
Kepercayaan terhadap Try Sutrisno terus meningkat, yang terlihat dari rentetan promosi jabatan penting yang diterimanya:
| Tahun | Jabatan |
|---|---|
| 1982–1985 | Panglima Kodam (Pangdam) Jaya |
| 1985–1986 | Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakil KSAD) |
| 1986–1988 | Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) |
| 1988–1993 | Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) |
Selama memimpin ABRI, ia dikenal sebagai panglima yang disiplin namun humanis. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesejahteraan prajurit di barak.
Wakil Presiden RI ke-6 (1993–1998)
Puncak pengabdian sipil Try Sutrisno adalah ketika terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 RI mendampingi Presiden Soeharto untuk periode 1993–1998.
Menariknya, pencalonan Try Sutrisno merupakan inisiatif kuat dari fraksi ABRI di MPR, yang kemudian disetujui secara aklamasi.
Selama menjabat, ia berperan aktif dalam menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika pembangunan yang pesat. Ia dikenal sebagai "ban serep" yang efektif, mampu menjembatani komunikasi antara pemerintah, militer, dan masyarakat.
Meskipun berada dalam lingkaran kekuasaan tertinggi, ia tidak pernah kehilangan jati dirinya yang rendah hati.