Dua Sisi Mata Uang: Antara Dorongan Konsumsi dan Tekanan Inflasi
Pemberian THR sebesar Rp55 triliun pada tahun 2026 ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, suntikan dana segar ke masyarakat ini akan menciptakan lonjakan konsumsi yang signifikan, menggerakkan sektor ritel, transportasi, dan UMKM. Data historis menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga selalu meningkat tajam pada momen Lebaran.
Namun di sisi lain, tekanan inflasi yang mencapai 4,76% secara tahunan mengindikasikan bahwa harga-harga kebutuhan pokok juga melonjak. Dengan kata lain, daya beli riil masyarakat mungkin tidak meningkat sebesar kenaikan nominal THR.
Bhima menyarankan pemerintah untuk tidak hanya fokus pada stimulus jangka pendek, tetapi juga perlu memperkuat kebijakan struktural yang dapat menstabilkan harga pangan dan energi.
"Kebijakan jangka pendek seperti THR penting, tapi harus diimbangi dengan pengendalian inflasi yang efektif, terutama pada komponen volatile food dan energi," pungkasnya.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran THR sebesar Rp55 triliun untuk ASN, TNI/Polri, dan pensiunan, naik 10% dari tahun lalu. Langkah ini diyakini akan mendorong konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.
Namun, para ekonom mengingatkan bahwa tingginya inflasi—terutama pada kelompok bahan pangan—berpotensi menggerus manfaat riil dari THR tersebut. Diperlukan kewaspadaan terhadap risiko inflasi lanjutan pasca-Lebaran, terutama dari sektor energi akibat konflik global. Kebijakan pengendalian harga dan penguatan daya beli jangka panjang menjadi kunci agar manfaat stimulus tidak hanya terasa sesaat. (**)