Bahan Baku: Antara Impor dan Inovasi Tropis
Farhan mengakui bahwa dari sisi bisnis, impor bahan baku bukanlah masalah besar. Yang terpenting, kata dia, adalah nilai tambah tetap berada di Bandung.
"Secara bisnis buat Kota Bandung, bahannya impor tidak masalah. Yang penting konveksinya di Kota Bandung, desainnya di Bandung, brand-nya dari Bandung, kantor pusatnya di Bandung, dan NPWP-nya beralamat di Kota Bandung, " ujarnya.
Namun, ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi bahan tekstil yang nyaman digunakan di iklim tropis. Inovasi di sektor hulu ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Perang Dagang Sudah Masuk Pasar Lokal
Tak hanya soal bahan baku, Farhan juga menyoroti ancaman dari produk jadi impor yang masuk dengan harga lebih murah. Menurutnya, persaingan perdagangan global kini tidak hanya terjadi di tingkat ekspor-impor, tetapi sudah merambah hingga ke pasar-pasar lokal.
Untuk menghadapi ini, ia menawarkan dua senjata utama: sertifikasi halal dan sistem pembayaran digital nasional (QRIS).
"Dua hal ini, sertifikasi halal dan QRIS, menjadi instrumen untuk memastikan ketahanan ekonomi Kota Bandung tidak kemudian diambil oleh pesaing dari luar," kata Farhan.
Jabar: Pasar Raksasa Industri Halal
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menambahkan bahwa provinsi ini memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal. Dengan jumlah penduduk sekitar 50,7 juta jiwa dan mayoritas beragama Islam, Jawa Barat adalah pasar sekaligus basis produksi yang sangat kuat.
"Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, UMKM, dan akademisi sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian syariah dan industri halal di Jawa Barat," ujar Erwan.