Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan apresiasi kepada pendiri Lippo Group Muchtar Riady beserta keluarga yang memberikan hibah lahan tersebut. Ia menilai langkah itu bukan sekadar komitmen bisnis, melainkan wujud kepedulian terhadap masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurut Ara sapaan akrabnya pembangunan di atas lahan 30 hektare tersebut akan dilakukan secara bertahap. Jika semua berjalan sesuai rencana, kawasan itu diproyeksikan dapat menampung sekitar 140 ribu unit apartemen bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai kunjungan ke lokasi menjadi langkah awal untuk memastikan pengembangan kawasan hunian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar penyediaan hunian yang layak dan terjangkau benar-benar bisa diwujudkan.
Sementara itu, CEO Lippo Group James Riady menyebut hibah tanah tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program strategis Presiden Prabowo Subianto. Lahan seluas 30 hektare itu diperkirakan mampu menampung sekitar 140 ribu unit hunian vertikal setara sekitar lima persen dari target nasional pembangunan tiga juta rumah.
Tahap berikutnya, Kementerian PKP bersama Danantara akan merumuskan konsep pembangunan kawasan, termasuk skema pengembangan, mekanisme penentuan harga, hingga kriteria pembelian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Di atas kertas, semuanya tampak rapi: tanah sudah ada, rencana sudah disusun, dan angka target sudah disebutkan. Namun seperti banyak proyek besar di negeri ini, publik mungkin akan menunggu satu hal sederhana bukan sekadar janji atau angka di dokumen, melainkan bangunan yang benar-benar berdiri dan dihuni. Karena bagi jutaan keluarga tanpa rumah, kunci pintu lebih berarti daripada pidato panjang di podium.*****