Ia mengaku sering mendengar cerita dari teman-temannya yang diremehkan kemampuannya, menerima upah lebih rendah untuk posisi yang sama, atau bahkan mendapat pertanyaan tidak relevan saat wawancara kerja.
"Isu kekerasan berbasis gender udah mulai sering dibahas tapi misalnya soal perempuan yang dibunuh di tengah perang kayak di Gaza gitu keliatannya masih jarang jadi bahan obrolan di kalangan mahasiswa," tambah Levy, menyoroti minimnya empati pada isu global.
Levy juga menyoroti budaya menyalahkan korban (victim blaming) yang masih kuat. "Budaya menyalahkan korban ketika terjadi pelecehan seksual tuh masih kuat banget, jadi banyak banget yang ternyata mengalami hal kurang mengenakan itu memilih untuk diam," sesalnya.
Ia berharap ada perubahan sistemik. "Hukumnya beneran ditegakkan, kalau ada korban kekerasan seksual prosesnya nggak berbelit-belit dan nggak malah menyalahkan korban," pungkasnya.
Pekerja: Lingkungan Kerja Masih Belum Aman
Fidiah (27), seorang pekerja, mengakui bahwa peluang perempuan untuk berkembang di dunia kerja sebenarnya terbuka. Namun, tantangan terbesar adalah rasa aman. Ia harus bekerja hingga malam dan merasa lingkungan yang didominasi laki-laki kerap menimbulkan situasi tidak nyaman.
"Ada beberapa momen di lapangan, yang cukup buatku trauma sebagai perempuan," akunya.
Ia berharap ada perubahan kesadaran di lingkungan kerja. "Sadari, hargai, dan hormati kalau ada perempuan di lingkungannya bekerja," pesannya.
Simpul Puan: Dari Agraria hingga Femisida, Perempuan Terus Berjuang
Aliansi Simpul Puan turut menggelar aksi di Taman Cikapundung, Bandung, Minggu (8/3/2026). Mereka menyuarakan isu dari tingkat lokal hingga global. Dinamisator Lapangan Simpul Puan, May, menyoroti ketimpangan upah bagi petani perempuan di Pangalengan, hingga kekerasan terhadap perempuan di Palestina dan Iran.