[Locusonline.co] GARUT – Lebaran tahun 2026 ini, Kabupaten Garut kembali menjadi magnet bagi jutaan pemudik. Terletak di jalur strategis selatan Jawa Barat yang menghubungkan Bandung dengan Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur, kota yang dijuluki "Swiss van Java" ini diprediksi akan kedatangan lebih dari 3 juta pemudik. Mereka tidak hanya pulang untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara, tetapi juga untuk menikmati kenangan masa kecil yang tersimpan rapi dalam rasa—terutama melalui dua ikon oleh-oleh manis yang tak pernah lekang oleh waktu: Burayot dan Dodol Garut .
Burayot: Camilan Unik yang "Bergelantungan" di Memori
Di antara hiruk-pikuk persiapan Lebaran, ada satu nama camilan yang selalu dirindukan para perantasi Garut: Burayot. Namanya diambil dari bahasa Sunda, ngaburayot, yang berarti "bergelantungan" . Penamaan ini merujuk pada cara penjual tradisional memajang kue ini setelah digoreng—dijajakan dengan cara digantung, sehingga bentuknya yang keriput dan menggantung menjadi pemandangan khas di pasar-pasar tradisional Garut .
Burayot terbuat dari campuran sederhana namun menghasilkan cita rasa yang kompleks: tepung beras, gula merah, santan, dan kacang tanah . Hasilnya adalah camilan dengan tekstur renyah di luar namun sedikit kenyal di dalam, dengan rasa manis legit khas gula aren yang merambat di lidah. Di kalangan pencinta kuliner tradisional, Burayot disebut sebagai "camilan kuno" yang kini mulai langka dan banyak diburu oleh wisatawan yang ingin merasakan kembali manisnya jajanan tempo dulu khas Sunda .
Saat Lebaran tiba, Burayot biasanya hadir di setiap meja tamu, menemani teh hangat di sore hari setelah seharian bersilaturahmi. Para pemudik yang kembali ke perantauan pun tak lupa memasukkan beberapa bungkus Burayot ke dalam tas—bukan sekadar oleh-oleh, tetapi juga pengingat akan kampung halaman yang selalu hangat dan manis.
Dodol Garut: Sang Ikon yang Mendunia
Tidak ada pembicaraan tentang oleh-oleh Garut tanpa menyebut sang juara: Dodol Garut. Makanan manis yang terbuat dari tepung beras ketan, santan kelapa, dan gula merah ini sudah menjadi ikon kuliner Garut yang legendaris sejak puluhan tahun lalu . Bahkan, Garut dijuluki sebagai "Kota Dodol" karena produk ini telah menembus pasar hingga mancanegara .
Dodol Garut dikenal dengan teksturnya yang kenyal, lengket, dan rasa manis legit yang pas. Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran ekstra—adonan harus diaduk terus-menerus selama berjam-jam hingga mencapai kekentalan yang sempurna . Dulu, dodol hanya memiliki varian rasa original dan wijen. Namun, seiring berkembangnya kreativitas produsen lokal, kini Dodol Garut hadir dalam berbagai inovasi rasa, mulai dari dodol buah-buahan seperti nanas, durian, dan nangka, hingga dodol ketan hitam dan cokelat .
Merek-merek legendaris seperti Dodol Picnic dan Dodol Murni 33 menjadi primadona yang mudah ditemukan di hampir setiap toko oleh-oleh . Dodol Picnic, yang berlokasi di Jalan Pasundan, bahkan sudah menjadi tujuan wajib para pemudik sebelum kembali ke kota perantauan . Keistimewaan dodol sebagai oleh-oleh juga terletak pada daya tahannya yang lama, menjadikannya pilihan ideal untuk perjalanan jauh .