"Memang terjadi peningkatan signifikan pada malam hari, terutama selepas Magrib hingga menjelang larut malam, dengan rata-rata kendaraan yang melintas cukup tinggi per jam," jelas Ruddy.
Volume kendaraan pada jam-jam tersebut dapat mencapai sekitar 10.000 unit per jam—suatu angka yang menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat yang memilih perjalanan malam untuk menghindari panas dan kemacetan siang hari.
Kondisi H+4: Masih Tinggi, Tapi Mulai Menurun
Meskipun puncak arus balik telah terlewati, volume kendaraan di jalur Nagreg hingga Rabu siang (H+4) masih terpantau tinggi. Berdasarkan data pukul 10.00 WIB:
| Arah | Jumlah Kendaraan |
|---|---|
| Menuju Bandung | 46.323 unit |
| Menuju Tasikmalaya | 27.199 unit |
Angka ini menunjukkan bahwa arus lalu lintas masih cukup padat, terutama bagi pemudik yang memilih untuk kembali ke Bandung dan sekitarnya.
Prediksi Gelombang Kedua Arus Balik
Dishub Kabupaten Bandung memprediksi akan terjadi gelombang kedua arus balik pada H+6 (Jumat, 27 Maret 2026). Namun, intensitasnya diperkirakan tidak akan sebesar puncak yang terjadi pada H+3.
Gelombang kedua ini kemungkinan besar didorong oleh:
- Pemudik yang memanfaatkan akhir pekan untuk kembali.
- Wisatawan yang memperpanjang masa liburan ke kawasan wisata seperti Pangandaran, Garut, dan Ciwidey.
Antisipasi dan Imbauan Dishub
Menghadapi masih tingginya volume kendaraan, Dishub Kabupaten Bandung bersama kepolisian terus melakukan sejumlah upaya:
- Penempatan Petugas di Titik Rawan: Personel masih disiagakan di simpang-simpang rawan kemacetan seperti Nagreg, Cileunyi, dan jalur alternatif menuju kawasan wisata.
- Rekayasa Lalu Lintas Situasional: Sistem buka-tutup jalur dan pengalihan arus diberlakukan sesuai kondisi lapangan.
- Monitoring Intensif: Posko pemantauan terus beroperasi 24 jam untuk memantau volume kendaraan dan merespons cepat potensi kemacetan.
Ruddy mengimbau para pemudik yang masih dalam perjalanan untuk tetap mengutamakan keselamatan.