Namun, di medan konflik yang terus memanas, pernyataan kecaman tampaknya telah menjadi ritual rutin seperti konferensi pers tanpa konsekuensi. Sementara itu, para jurnalis di lapangan tetap menjalankan tugasnya dengan risiko yang kian tak masuk akal: melaporkan perang, sambil berharap tidak menjadi bagian dari berita berikutnya.*****