Di lapangan, persiapan sudah berjalan. CENTCOM melaporkan sekitar 3.500 personel tambahan telah tiba di kawasan dengan kapal USS Tripoli, lengkap dengan jet tempur dan aset serbuan amfibi.
Tak hanya itu, Divisi Lintas Udara ke-82 juga disiapkan untuk kemungkinan pengerahan lanjutan menandakan bahwa opsi darat bukan sekadar wacana di atas meja.
Sementara itu, respons dari Teheran tidak kalah keras. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding AS bermain dua wajah, yaitu bicara dialog di depan, menyiapkan serangan di belakang.
Ia bahkan mengklaim pasukan Iran sudah “menunggu” kedatangan tentara AS dengan janji balasan yang tidak setengah-setengah.
“Rudal kami siap,” tegasnya, seperti dikutip Tasnim News Agency.
Dalam pernyataan sebelumnya, Ghalibaf juga memperingatkan bahwa setiap upaya menduduki wilayah Iran akan dibalas dengan serangan ke infrastruktur vital negara-negara regional yang terlibat. Sebuah pesan yang secara halus berarti konflik ini tidak akan tetap lokal.
Dari sisi militer, Iran juga mengirim sinyal ke laut. Kepala Angkatan Laut, Shahram Irani, menyebut kapal induk AS seperti USS Abraham Lincoln akan menjadi target jika berada dalam jangkauan.
Tak berhenti di situ, Iran juga membuka kemungkinan memperluas konflik ke Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur penting lain bagi perdagangan global. Bahkan kelompok Houthi disebut siap ikut bermain jika diperlukan.