Kamis, 4 Juni 2026

Trump: "Kuba Target Selanjutnya" Setelah Iran, Diaz-Canel Tegaskan Kedaulatan Tak Bisa Ditawar

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 30 Maret 2026 | 16:16 WIB



"Kami dapat membahas semuanya, tetapi kedaulatan kami harus dihormati. Kemerdekaan dan sistem politik kami tidak pernah terbuka untuk diskusi," kata Diaz-Canel.





Pernyataan ini disampaikan Diaz-Canel dalam konteks pembicaraan yang sedang berlangsung antara Havana dan Washington. Menurutnya, berbagai topik penting seperti investasi asing, arus migrasi, perdagangan narkoba, kontra-terorisme, perlindungan lingkungan, serta sains dan pendidikan adalah hal-hal yang dapat dinegosiasikan.





Namun, satu hal yang mutlak: kemerdekaan Kuba tidak bisa ditawar.





Latar Belakang: Kebijakan AS di Bawah Trump





Pernyataan Trump tentang Kuba tidak muncul dalam ruang hampa. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump telah menunjukkan peningkatan aktivitas militer dan tekanan diplomatik di beberapa front:






  • Venezuela: AS baru-baru ini mengklaim keberhasilan operasi militer di Venezuela, meskipun rincian operasi tersebut masih diselimuti kerahasiaan.




  • Iran: Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam Iran, dengan mengirimkan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah dan memberlakukan sanksi baru.




  • Kuba: Selama masa kepresidenannya, Trump telah membalikkan kebijakan keterbukaan era Obama terhadap Kuba, memperkuat embargo, dan menempatkan Kuba kembali dalam daftar negara sponsor terorisme.





Reaksi Internasional





Pernyataan Trump langsung menuai reaksi dari berbagai pihak. Para pengamat hubungan internasional menilai bahwa retorika seperti ini berisiko meningkatkan ketegangan di kawasan Amerika Latin, yang selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan tren perdamaian dan dialog.





Pemerintah Kuba sendiri, meskipun menyatakan keterbukaan untuk berdialog, juga meningkatkan kewaspadaan. Militer Kuba dilaporkan dalam status siaga tinggi menyusul pernyataan tersebut.





Sementara itu, sekutu AS di kawasan seperti Kolombia dan Brasil belum memberikan pernyataan resmi terkait pernyataan Trump.





Kuba: Sejarah Panjang Perlawanan





Kuba memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan kedaulatan dari intervensi asing. Sejak revolusi 1959 yang dipimpin Fidel Castro, negara ini telah menghadapi berbagai upaya destabilisasi, embargo ekonomi selama lebih dari enam dekade, serta percobaan invasi Teluk Babi yang gagal pada 1961.

Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X