LOCUSonline, JAKARTA - Sejumlah partai nonparlemen yang tergabung dalam Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat (GKSR) mulai terang-terangan melawan wacana kenaikan ambang batas parlemen atau Parliamentary Threshold (PT). Mereka menilai sistem saat ini membuat jutaan suara rakyat masuk kotak sampah demokrasi.
Forum diskusi digelar di Kantor Sekber GKSR, Menteng, Jakarta, Senin (11/5/2026). Hadir dalam forum itu tokoh-tokoh politik dan hukum seperti Mahfud MD, Zainal Arifin Mochtar, Oesman Sapta Odang, hingga Said Iqbal.
Diskusi itu membahas satu persoalan yang terus jadi polemik setiap pemiludimana jutaan suara pemilih hilang gara-gara partainya tidak lolos ambang batas parlemen.
OSO, sapaan Oesman Sapta, mengatakan demokrasi tidak boleh berubah menjadi arena eksklusif partai besar yang terus memonopoli kursi parlemen.
"Jangan sampai rakyat diberi hak memilih, tapi suaranya tidak punya wakil," katanya.
Saat ini muncul berbagai usulan soal ambang batas parlemen. Ada yang mendorong PT naik menjadi 5 sampai 7 persen, sementara sebagian pihak meminta PT dihapus total.
Bagi GKSR, makin tinggi ambang batas, makin besar suara rakyat yang hilang. Mereka menilai sistem sekarang justru mempersempit ruang politik alternatif dan memperkuat dominasi partai mapan.
Satirnya, rakyat disuruh datang ke TPS, antre nyoblos, debat soal demokrasi, tapi jutaan suaranya bisa lenyap hanya karena angka persentase.
GKSR pun menawarkan konsep Fraksi Threshold. Intinya, partai-partai kecil yang tidak memenuhi batas kursi tetap bisa bergabung membentuk fraksi bersama di DPR.
Usulan itu juga didukung Yusril Ihza Mahendra. Menurut Yusril, partai bisa dianggap lolos bila mampu menempatkan anggota minimal di setiap komisi DPR.
Kalau jumlah kursinya kurang, partai bisa membentuk fraksi gabungan.
"Kalau digabung, suara mereka besar. Jangan sampai hilang begitu saja," kata Yusril sebelumnya.
Mahfud MD juga mengakui sistem sekarang membuat sekitar 17 juta suara pemilih tidak terwakili di DPR karena partainya gagal melewati PT 4 persen.
"Suara sebanyak itu tidak boleh terbuang," ujar Mahfud.
Artikel Terkait
Kejutan Kode Redeem FC Mobile 26 April 2026: Puluhan Hadiah Gratis untuk Dream Team Anda
Kode Redeem FC Mobile Terbaru: Booster Star Shard untuk TOTS 2026, Edisi 5 Mei 2026
KUHP dan KUHAP Baru Dipuji Lebih Humanis, Bamsoet Ingatkan Aparat Jangan Lagi Jadikan Hukum Mesin
Pabrik PT Pratama Abadi Industri Berdiri di Atas Lahan Terlarang?, Pelapor : “Bukan Izin Tapi Cuma Restu!”
Kasus Campak dan Rubela di Garut Meledak, Anak-anak Jadi Korban Imunisasi Mendadak Dicari
Salah Satu Tokoh Limbangan Soroti Kasus Alih Fungsi Lahan Pertanian Didepan Menteri Lingkungan, Nasib PT. Pratama Abadi Industri?
Menteri Lingkungan Hidup Diminta “Tandang dan Ludeng”, Krisis Lingkungan di JABAR Disebut Sudah Kronis
TMMD Garut: Saat Ibu-Ibu Desa Mekarmulya Jadi “Kontraktor Dadakan”, Jalan Desa Akhirnya Dibangun dengan Tenaga Gotong Royong
TMMD Garut: Saat Prajurit Jadi Tukang Bangunan, Rumah Reyot Warga Disulap Tanpa Tender Miliaran
Ekonomi Indonesia Ditopang Sektor Pertanian: Saat Cabai Tak Mengamuk, Inflasi Pun Mendadak Santun
Skandal Limbah PT Pratama Abadi Industri Disorot, Dana Rp66 Juta ke Rekening Pribadi Humas PT Pratama Abadi Industri?
Dugaan “Bagi-Bagi Jatah” Dana Bagi Hasil Bonus Produksi Panas Bumi di Garut Beredar
Garena Free Fire Lagi Drop Kode Redeem Gratis 12 Mei 2026 – Buruan Swap Sebelum Abis!
Jangan Ketinggalan! Cara Klaim Kode Redeem FC Mobile Gratis untuk Tim Impian Anda
Kode Redeem Mobile Legends: Peluang Hadiah Gratis di Tengah Event Musim Panas
Jadwal Pencairan Bansos BPNT Mei 2026 Tahap 2: Panduan Lengkap untuk Penerima Manfaat
Jalan Rusak Bertahun-Tahun, Pemkab Garut Akhirnya Turun Tangan: Warga Ikut Patungan Rp530 Juta demi Akses Desa
Bupati Garut Dorong Event dan Bansos Jadi Mesin Ekonomi, Investor Masih Sibuk “Wait and See”
Rumah Kreator Konten Garut Hangus Terbakar, Kritik Desa Berujung Teror? Polisi Diminta Jangan Cuma Jadi Penonton
Bupati Garut Gaspol Pompa Air dan Irigasi: Sawah Jangan Sampai Kering, Bantuan Jangan Hilang Duluan