LOCUSonline, GARUT - Abdusy Syakur Amin mulai bicara terang-terangan soal kondisi pertanian di Garut. Di tengah ancaman cuaca ekstrem dan krisis air, pemerintah daerah kini fokus menjaga sawah tetap hidup agar petani tidak cuma panen janji.
Hal itu disampaikan Syakur saat memimpin sosialisasi program Irigasi Perpompaan dan Operasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier Tahun Anggaran 2026 di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Kamis (7/5/2026).
Dalam arahannya, Syakur menegaskan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Garut. Kontribusinya terhadap perekonomian daerah mencapai 2,13 persen dan menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
"Mayoritas warga Garut hidup dari pertanian. Jadi kalau sawah bermasalah, ekonomi masyarakat ikut goyang," tegasnya.
Ia mengatakan program ini sejalan dengan target swasembada pangan nasional yang terus didorong Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Bupati Garut Dorong Event dan Bansos Jadi Mesin Ekonomi, Investor Masih Sibuk “Wait and See”
Karena itu, Pemkab Garut memilih langkah yang lebih konkret dibanding sekadar seminar ketahanan pangan yang ujung-ujungnya hanya menghasilkan spanduk dan dokumentasi.
Pemerintah daerah kini menyiapkan pompa air, perbaikan irigasi, pupuk murah, hingga asuransi pertanian untuk mengantisipasi gagal panen akibat El Nino dan kekeringan.
"Kita harus siapkan alat untuk menjaga ketersediaan air. Pompa dan irigasi harus dimanfaatkan maksimal supaya produktivitas pertanian naik," papar Syakur.
Namun di balik bantuan besar itu, Syakur juga menyelipkan pesan yang terdengar cukup satir. Ia meminta kelompok tani menjaga bantuan pemerintah dengan serius, terutama pompa air.
Pesan itu muncul karena bantuan pertanian sering kali bernasib tragis: baru difoto saat serah terima, lalu hilang arah setelah musim tanam selesai.
"Pompa air dijaga, jangan sampai rusak apalagi hilang," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Garut, Ardhy Firdian, membeberkan rincian bantuan yang akan digelontorkan sepanjang 2026.
Program tersebut meliputi:
- 200 unit irigasi perpompaan senilai Rp155,7 juta per unit untuk 54 kelompok tani.
- Pemeliharaan 212 jaringan irigasi tersier dengan nilai Rp100 juta per unit.
- Optimalisasi lahan pertanian seluas 717 hektare.
- Program cetak sawah baru seluas 100 hektare.
Artikel Terkait
Hari Otonomi Daerah ke-30 di Garut, Daerah Diminta Mandiri Tapi Masih Belajar Berdiri
Eceng Gondok Kuasai Irigasi Karawang: Pemdes Kertarahayu Ultimatum BBWS Citarum–PJT II, Sawah 800 Hektare Terancam Gagal Tanam
Bupati Garut Sebut RLS Garut 7,86 Tahun: Sekolah Belum Tamat, Pekerjaan Rumah Sudah Menumpuk
Serapan Pupuk Subsidi di Garut Seret: Urea Kurang Dilirik, Pupuk Organik Bernasib Tragis, NPK Jadi Primadona Baru Petani
Program RTLH Garut 2026: Rapat Virtual Tiga Hari, Harapan Rumah Layak Tak Sekadar Zoom Meeting
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 di Garut: 27 Daerah Unjuk Gaya, Jalan Kota Siap Disulap Jadi Panggung Budaya
Milangkala Tatar Sunda Garut 2026: Kirab Mahkota Binokasih, Janji Infrastruktur dan Hujan yang Tak Bisa Bubarkan Euforia
Harga Pupuk Subsidi di Garut dan Tasikmalaya Masih Mahal, Petani Bingung: Diskon 20 Persen Kok Hanya Terasa di Spanduk
5 Kepala Desa PAW Dilantik Bupati Garut, Pesan Utamanya Jelas: Cari Uang yang Halal, Bukan Ide yang Viral
Bupati Garut Kumpulkan APDESI, 442 Desa Diminta Kompak Kelola Dana agar Tak Habis untuk Rapat dan Spanduk