LOCUSonline, JAKARTA - Bambang Soesatyo menilai polarisasi sosial-politik di Indonesia sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Menurutnya, keterbelahan masyarakat kini bukan sekadar beda pilihan politik, tetapi mulai merusak harmoni kehidupan berbangsa dan menyerempet wilayah moral.
Dalam pandangannya, polarisasi yang terus dibiarkan berpotensi memicu konflik sosial, gesekan antarkelompok, hingga mengganggu pembangunan nasional.
"Sudah waktunya semua elemen politik serius menghadapi persoalan ini," tulis Bamsoet dalam pandangannya terkait kondisi sosial-politik nasional.
Mantan Ketua MPR RI itu menyoroti munculnya kelompok masyarakat yang dinilai mulai permisif terhadap pelanggaran hukum dan etika. Di sisi lain, ada kelompok yang terus menuntut penegakan hukum dilakukan adil tanpa pandang bulu.
Baca Juga: Polri Bangun Lab Sosial Sains di Akpol Semarang, Lahirkan Kebijakan Presisi Berbasis Data!
Fenomena itu makin liar karena masyarakat setiap hari disuguhi drama hukum yang memancing kemarahan publik.
Ada terpidana yang belum dieksekusi tetapi tetap bebas berkeliaran. Sebaliknya, ada korban kejahatan yang justru diproses hukum karena dianggap melawan saat membela diri.
Bamsoet menyinggung sejumlah kasus pembegalan di Lombok, Lampung, hingga Serang yang sempat memicu perdebatan soal keadilan hukum.
Akibatnya, kepercayaan publik terhadap lembaga negara ikut menurun. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) disebut menjadi bahan bakar utama yang memperparah keterbelahan sosial.
Satirnya, rakyat sekarang bukan cuma terbelah karena pilihan politik, tapi juga karena bingung membedakan mana penjahat, mana korban, dan mana yang kebal hukum.
Menurut Bamsoet, polarisasi makin diperparah oleh media sosial yang dipenuhi ujaran kebencian dan hoaks. Residunya berasal dari pertarungan politik sejak pemilu beberapa tahun terakhir yang belum benar-benar selesai.
Situasi itu kemudian melahirkan sentimen negatif terhadap lembaga negara, termasuk munculnya tuntutan pembubaran DPR.
Bamsoet menilai tuntutan tersebut berlebihan dan berbahaya bagi sistem ketatanegaraan Indonesia.
"Kalau ada tikus di lumbung, tikusnya yang diusir, bukan lumbungnya yang dibakar," tegasnya.
Artikel Terkait
"Shut Up KDM" di GBLA Saat Tribun Bicara, Politik Diminta Turun dari Lapangan Persib
Gen Z Menjauh dari Politik? Saat Panggung Demokrasi Terlalu Kaku, Konsep “SENI” Ditawarkan agar Tak Sepi Penonton
Gara-Gara Artis Titi Kamal dan Irfan Hakim Warga Garut Kuras Tabungannya Untuk Bisnis Monstera Variegata
EA Sports Bagikan Kode Redeem FC Mobile Terbaru: Paket Pemain OVR 115 dan Jutaan Koin Gratis!
Demokrasi Versi Take Down : Amien Rais Bicara Kebebasan, Pemerintah Bicara Tombol Hapus
Demokrasi Indonesia Berjalan di Tempat: Pemilu Rutin Digelar, Arah Politik Masih Muter di Sini-Sini Aja
Perempuan di Politik Masih Kerja Lembur Tanpa Deadline, Nurul Arifin Sebut PR Kesetaraan Belum Tamat
Demokrasi Pancasila Butuh Servis Besar, Bambang Soesatyo Soroti Partai Politik yang Masih Sering Mogok di Tengah Jalan
Program MBG Disebut Bukan Alat Politik 2029 Katanya!, Amran Sulaiman: Anak Balita Belum Bisa Nyoblos Jadi Aman dari Kampanye
Drama Ade Armando dan Dilema PSI antara Kebebasan Kritik vs Stabilitas Politik