politik

Prabowo Usung “Good Neighbor Policy”: Indonesia Pilih Jadi Tetangga Baik, Bukan Tukang Ribut Kawasan

Minggu, 17 Mei 2026 | 15:00 WIB
Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (17/5/2026) (Foto: ANTARA)

LOCUSonline, NGANJUK - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia ke depan akan mengedepankan konsep “good neighbor policy” atau politik bertetangga baik. Di tengah dunia yang makin ramai oleh konflik geopolitik, perang dagang, dan drama perbatasan, Indonesia memilih jalur yang lebih sederhana: tidak cari musuh kalau masih bisa cari teman.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (17/5/2026).

Menurut Prabowo, sejak awal menjabat presiden dirinya telah menetapkan arah politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas aktif dan nonblok, namun diperkuat dengan pendekatan hubungan harmonis antarnegara tetangga.

"Saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik,' ujar Prabowo.

Baca Juga: Heboh Bupati Jalin Hubungan Terlarang: Ketika Drama Politik Diduga Berawal dari Luka Pribadi

Di tengah situasi global yang sering berubah lebih cepat daripada harga kebutuhan pokok, Prabowo menilai hubungan baik dengan negara sekitar menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas kawasan, termasuk di wilayah sensitif seperti Laut Natuna Utara.

Presiden mengatakan pemerintah kini aktif menyelesaikan berbagai persoalan diplomatik yang selama bertahun-tahun mandek seperti sinetron tanpa episode akhir.

"Sama Singapura, perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan, kita selesaikan," katanya.

Selain Singapura, Indonesia juga disebut memperkuat hubungan dengan Vietnam, Tiongkok, Malaysia, Papua Nugini, Australia, hingga Thailand.

Prabowo bahkan menyebut situasi di Natuna kini relatif lebih tenang dibanding sebelumnya.

"Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut," ujarnya.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menekankan bahwa pendekatan diplomasi Indonesia tidak lahir tiba-tiba, melainkan berakar dari pemikiran para pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

Ia mengingatkan bahwa tokoh-tokoh tersebut bukan milik kelompok politik tertentu, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.

"Bung Karno bukan hanya milik satu partai. Bung Karno adalah milik seluruh bangsa Indonesia," kata Prabowo.

Baca Juga: Prabowo dan Sindiran ke “Orang Pintar”: Politik Anti-Elit Makin Laku, Akademisi Jadi Sasaran Guyonan

Halaman:

Tags

Terkini