politik

DPR Soroti WNI Ditangkap Israel “Bawa Misi Kemanusiaan, Malah Disambut Borgol”

Kamis, 21 Mei 2026 | 12:05 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline, JAKARTA - Situasi geopolitik dunia kembali memperlihatkan ironi kelas internasional. Saat sebagian orang sibuk pidato soal perdamaian dan kemanusiaan, sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut misi bantuan kemanusiaan ke Gaza justru berakhir ditangkap tentara Israel. Di dalam rombongan itu, ada pula jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan sekaligus misi solidaritas kemanusiaan.

Anggota Komisi I DPR RI, Mahfudz Abdurrahman, menilai para WNI tersebut sedang menjalankan misi mulia bukan operasi rahasia apalagi wisata geopolitik.

"Jurnalis itu sedang melaksanakan tugas mulia untuk misi kemanusiaan, mau kasih bantuan ke Gaza, tapi kemudian dicegat," ujar Mahfudz kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).

Baca Juga: RAPBN 2027 Mulai Dibahas, DPR Siap Evaluasi Program Pemerintah, Jangan Sampai Anggaran Cuma bagus di presentasi PowerPoint

Dalam pernyataannya, Mahfudz menyinggung bagaimana konflik global kini bukan cuma urusan negara besar dan meja diplomasi, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan warga sipil, relawan kemanusiaan, hingga pasukan perdamaian. Dunia, kata dia, makin terlihat seperti arena penuh ketegangan, sementara rakyat biasa lagi-lagi jadi pihak yang paling mudah terkena imbas.

Ia juga menyoroti insiden di Lebanon yang menewaskan lima prajurit pasukan perdamaian. Menurutnya, negara wajib melakukan investigasi menyeluruh terkait berbagai insiden di wilayah konflik, termasuk penangkapan para relawan dan jurnalis yang menuju Gaza.

"Nah ini juga kemudian menjadi kewajiban negara ya, bukan hanya kemudian diurus kepulangannya, tetapi juga perlu diselidiki," katanya.

Mahfudz mendesak Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia agar bergerak lebih aktif menggunakan jalur diplomasi tidak langsung. Sebab, Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Artinya, urusan kemanusiaan kali ini harus lewat “jalur teman”, bukan jalur telepon langsung.

Baca Juga: Politik Indonesia 2024-2029 Disebut Masuk Era “Grand Coalition”: Oposisi Makin Tipis, Diplomasi Makin Lincah

Pemerintah Indonesia sendiri kini meminta bantuan Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi sembilan WNI yang ditahan Israel saat mengikuti misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mengatakan kedua negara tersebut dipilih karena masih memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga bisa menjadi penyambung komunikasi bagi Indonesia.

"Kita juga sudah minta bantuan dari teman-teman kita di Jordan, di Turki," ujar Sugiono di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Sugiono memastikan pemerintah RI terus memantau perkembangan para WNI yang ditangkap dan berupaya memberi tekanan diplomatik terhadap Israel. Pemerintah Indonesia menilai tindakan penangkapan terhadap relawan kemanusiaan tersebut sebagai bentuk pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini selalu dijadikan slogan dalam forum internasional.

Di tengah panasnya konflik global, kejadian ini seperti mengingatkan publik bahwa membawa bantuan kemanusiaan ke wilayah perang kini bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal kesiapan menghadapi risiko politik internasional. Dunia modern rupanya masih akrab dengan ironi: bantuan kemanusiaan bisa dianggap ancaman, sementara perang sering kali justru diperdebatkan dengan bahasa diplomasi yang terlalu sopan.*****

Tags

Terkini