Jumat, 5 Juni 2026

Gula-Gula Kapitalisme: Vonis Turun, Untung Tak Dapat Diraih

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Sabtu, 19 Juli 2025 | 12:06 WIB
Foto Istimewa
Foto Istimewa




Baca Juga : Nyawa Berjenjang, Keadilan Bertarif: Tewasnya Diplomat Diusut Kilat, Kematian Guru Dibilang Tamat Sendiri






Dramaturgi Penghalang Keadilan
Kasus ini juga melibatkan drama tambahan: dugaan upaya perintangan penyidikan alias obstruction of justice. Tiga tersangka baru ditetapkan—dua pengacara dan satu direktur televisi swasta—yang diduga merekayasa opini publik demi menggiring narasi tandingan.





Bahkan, istri Tom ikut diperiksa karena ditemukan komunikasi dengan salah satu tersangka. Tom meminta agar keluarganya tak diseret, cukup dirinya saja yang bertanggung jawab atas “perintah yang dilaksanakan”.





Gula, Politik, dan Moral yang Tergerus
Dari seluruh episode ini, publik disuguhi satu pelajaran: kebijakan publik bisa berujung vonis, tapi asal tak menikmati uangnya, bisa dianggap “ringan”. Dan jika sudah menyebut nama presiden, bisa jadi tameng pengalihan tanggung jawab.





Sementara rakyat hanya bisa menyaksikan, bagaimana “gula-gula hukum” dibagikan selektif: keras pada kecil, ringan pada elit. Gula impor manis di meja kongkalikong, tapi pahit di neraca negara.





Karena di republik ini, kadang korupsi bukan soal memperkaya diri — tapi soal siapa yang menandatangani dan siapa yang disalahkan. (Bhegin)


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X