Drama dimulai gara-gara anaknya latihan drum band, hujan, dan mobil jemputannya nggak boleh masuk ke area sekolah, sehingga anaknya harus turun, kehujanan sedikit, dan Arlan langsung ‘rage mode’ dengan mencopot kepala sekolah SMPN 1 Prabumulih.
Mutasi dilakukan tanpa prosedur. Kemendagri langsung turun tangan dengan beri teguran tertulis Arlan pun minta maaf.
Publik cuma bisa bilang, “Kalau semua orang marah tiap anaknya kehujanan, kepala sekolah bisa ganti tiap hujan turun.”
3. Mirwan MS (Bupati Aceh Selatan)
Sanksi: Pemberhentian sementara 3 bulan
Pelanggaran: Pergi Umrah saat daerahnya banjir bandang & longsor
Ini dia yang paling kontroversial disaat Aceh Selatan dilanda bencana, Mirwan kabur ke Tanah Suci, pemkab bilang situasi sudah stabil, tapi publik dan Gubernur Aceh langsung berang.
Fakta makin rumit:
- izin ke luar negeri sudah ditolak gubernur,
- tapi Mirwan tetap berangkat tanpa izin Kemendagri dan akhirnya, Mirwan digeser jadi “Bupati nonaktif sementara”, dan Wakil Bupati Naik jadi Plt.
Publik, “Bukan salah Umrahnya, salah timing-nya, Bos.”
Tiga kepala daerah ini sukses bikin track record pelanggaran tercepat dalam setahun mulai dari healing ilegal, amarah gara-gara kehujanan, sampai Umrah saat bencana semuanya nunjukkin satu hal, jabatan boleh baru tapi problemnya udah senior.