Pihak seperti Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia (LPKNI) Kota Bandung mendesak agar audit investigatif menyeluruh oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus dilakukan terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengungkap akar masalah, menemukan potensi penyimpangan, dan memastikan pertanggungjawaban publik sebelum aset senilai puluhan miliar itu dihapuskan. Tanpa audit ini, risiko siklus pemborosan yang sama terulang di masa depan menjadi sangat tinggi.
Belajar dari Kegagalan: Pandangan Ahli dan Masyarakat
Kegagalan Teras Cihampelas menjadi pelajaran berharga tentang perencanaan kota. Ahli tata kota menilai proyek ini mengabaikan karakter dan sejarah visual kawasan Cihampelas yang khas, mengubah pengalaman berbelanja yang hidup menjadi ruang publik yang "mengambang" dan terasing. Proyek fisik yang megah ternyata tidak otomatis menciptakan ekosistem sosial-ekonomi yang berkelanjutan. Untuk menyukseskan proyek strategis di masa depan, seperti yang pernah dijalankan Ridwan Kamil dalam memperkuat sumber daya aparatur sipil daerah, integritas perencanaan dan partisipasi publik harus menjadi fondasi yang kokoh.
Sementara itu, bagi sebagian pedagang kecil seperti Melihah, skywalk ini adalah satu-satunya tempat mencari nafkah. Wacana pembongkaran menimbulkan kecemasan tentang masa depan penghidupan mereka. Pemkot Bandung dituntut untuk tidak hanya jeli merancang ulang ruang fisik, tetapi juga menyiapkan skema transisi sosial-ekonomi yang adil bagi warga yang terdampak.
Kesimpulan: Wacana pembongkaran Teras Cihampelas menguak luka lama tata kelola pembangunan kota. Keputusan akhir, apakah membongkar atau mempertahankan dengan transformasi radikal, harus diambil melalui proses yang transparan, partisipatif, dan diawali dengan audit komprehensif. Tujuan utamanya bukan hanya menghapus monumen gagal, tetapi merestorasi karakter, keamanan, dan kemanfaatan ruang publik bagi seluruh warga Bandung. Keberhasilan langkah ini akan diukur dari kemampuan Pemkot belajar dari kesalahan dan membangun tata kelola pemerintahan yang lebih akuntabel ke depannya. (**)