“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak ada artinya tanpa kesetaraan. Kesenjangan kesejahteraan masih terasa betul,” tegasnya.
Oleh karena itu, strategi ke depan akan berfokus pada kebijakan yang tidak hanya mengejar angka, tetapi juga berdampak nyata pada:
- Pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan.
- Penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.
- Penguatan daya beli masyarakat secara luas.
Dari Pemulihan ke Akselerasi Inklusif
Pernyataan Wali Kota Farhan menggambarkan sebuah transisi fase ekonomi Kota Bandung:
| Fase Ekonomi | Kondisi | Target & Fokus |
|---|---|---|
| Pemulihan (Recovery) | Bangkit dari kontraksi -3.2% (pandemi) ke +5.3%. | Stabilisasi, mengembalikan aktivitas ekonomi ke level prapandemi. |
| Akselerasi (Acceleration) | Menutup gap 2-3% menuju level prapandemi (~7.6%). | Inovasi, investasi, dan produktivitas untuk pertumbuhan lebih tinggi. |
| Kontribusi Nasional (Contribution) | Berkontribusi pada target nasional 8% pada 2029. | Menjadi motor pertumbuhan regional, selaras dengan kebijakan nasional. |
Kunci keberhasilan transisi ini terletak pada kemampuan Bandung untuk mempertahankan momentum positif sambil mengatasi tantangan ketimpangan. Pernyataan Farhan tentang kesenjangan yang "masih terasa betul" menunjukkan kesadaran bahwa pertumbuhan yang hanya dinikmati segelintir orang akan rapuh dan berpotensi menimbulkan ketegangan sosial.
Kolaborasi dan Dampak Nyata
Farhan menutup dengan seruan kepada seluruh ASN untuk menjaga konsistensi, memperkuat kolaborasi, dan memastikan setiap program berdampak langsung pada kesejahteraan warga. Tahun 2026 diposisikan sebagai fondasi penting untuk lompatan ekonomi menuju 2029.
Dengan menggabungkan optimisme data, target yang ambisius, dan kesadaran akan pentingnya inklusivitas, Wali Kota Farhan telah merumuskan agenda ganda untuk Kota Bandung: tidak hanya menjadi kota yang tumbuh cepat, tetapi juga kota yang tumbuh bersama dan adil. (**)