Kamis, 4 Juni 2026

Setahun Bandung Utama, Antara Euforia Program Gaslah dan Pertanyaan Besar

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 23 Februari 2026 | 05:05 WIB


[Locusonline.co] Memasuki tahun pertama visi Bandung Utama, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menggaungkan program unggulan pengelolaan sampah, Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah), sebagai bukti komitmen membenahi persoalan kronis perkotaan. Wali Kota Muhammad Farhan tampak ingin menegaskan bahwa pendekatan pengelolaan sampah tidak lagi sekadar reaktif, melainkan preventif dengan melibatkan masyarakat secara aktif.





Namun, di balik apresiasi yang mengalir dari sejumlah warga, publik perlu bertanya: apakah dukungan sporadis ini cukup untuk menjamin keberhasilan program di masa depan? Atau justru ini adalah potret euforia jangka pendek yang suatu saat akan meredup ketika anggaran menipis atau petugas kehilangan gairah kerja?





Antara Antusiasme Warga dan Realitas di Lapangan





Testimoni warga seperti Andika dari Cisaranten Kulon dan Hikmat Mulyana dari Pasirkaliki memang memberikan angin segar. Mereka memuji kehadiran petugas Gaslah yang dianggap membantu memilah dan mengolah sampah organik, sekaligus mengedukasi warga untuk membangun kebiasaan baru. Ini adalah bukti bahwa pendekatan partisipatif yang diusung Pemkot mulai menyentuh akar rumput.





Akan tetapi, dukungan dari dua wilayah ini tidak serta-merta mencerminkan kondisi di 151 kecamatan atau 1.596 RW lainnya. Pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah: bagaimana dengan ribuan RW yang belum merasakan dampak serupa? Apakah program ini sudah berjalan merata, atau hanya efektif di wilayah-wilayah tertentu yang kebetulan menjadi proyek percontohan?





Gaslah: Solusi Jangka Pendek atau Perubahan Struktural?





Secara konseptual, program Gaslah adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Mengalokasikan anggaran untuk petugas pemilah di tingkat RW adalah bentuk konkret pengakuan pemerintah bahwa persoalan sampah harus diselesaikan dari sumbernya. Namun, kita harus jujur mengakui bahwa model ini menyimpan risiko ketergantungan.





Jika warga merasa tugas memilah sampah sepenuhnya "didelegasikan" kepada petugas Gaslah yang digaji pemerintah, lalu di mana letak perubahan kesadaran kolektif yang sesungguhnya? Andika sendiri mengakui bahwa persoalan utama di lingkungannya adalah masih banyaknya sampah organik yang tercampur. Kehadiran petugas memang membantu, tetapi apakah ini menjamin bahwa ketika petugas tidak ada, kebiasaan memilah akan tetap berjalan?





Program Gaslah berisiko menjadi "alat bantu sementara" alih-alih "katalis perubahan permanen" jika tidak diiringi dengan sistem edukasi yang masif dan berkelanjutan. Penguatan sumber daya manusia melalui penempatan petugas memang penting, tetapi tanpa transformasi budaya di level rumah tangga, program ini hanya akan menjadi solusi ad-hoc yang bergantung pada ketersediaan anggaran APBD setiap tahunnya.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X