Kolaborasi yang Masih Timpang
Slogan "kolaborasi" memang indah didengar. Hikmat Mulyana, misalnya, berterima kasih kepada Pemkot atas program ini. Namun, kolaborasi sejati tidak boleh berjalan satu arah. Selama ini, pola yang terbangun adalah pemerintah sebagai "pemberi solusi" dan masyarakat sebagai "penerima manfaat". Padahal, esensi kolaborasi adalah kemitraan setara di mana warga tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek penggerak.
Apakah Pemkot telah menyiapkan skema insentif non-finansial bagi warga atau komunitas yang berhasil menjadi teladan dalam pengelolaan sampah mandiri? Ataukah program ini masih berkutat pada model top-down di mana petugas menjadi ujung tombak sementara warga hanya menjadi penonton yang sesekali memberikan applause?
Refleksi Setahun: Antara Target dan Keniscayaan
Satu tahun perjalanan Bandung Utama seharusnya menjadi momentum tidak hanya untuk merayakan keberhasilan kecil, tetapi juga untuk melakukan evaluasi kritis. Pemerintah perlu menunjukkan data yang lebih komprehensif: berapa total volume sampah yang berhasil dikurangi berkat program Gaslah? Berapa banyak RW yang benar-benar mengalami perubahan signifikan dalam hal kualitas pemilahan? Di mana titik-titik kegagalan dan apa strategi antisipasinya?
Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, apresiasi warga di Cisaranten Kulon dan Pasirkaliki hanya akan menjadi cerita indah yang menutupi potensi kegagalan sistemik di tempat lain. Bandung memang membutuhkan program-program inovatif seperti Gaslah. Namun, inovasi tanpa pengawasan ketat, evaluasi berkala, dan rencana keberlanjutan yang matang, pada akhirnya hanya akan menjadi babak baru dalam siklus panjang proyek-proyek pemerintah yang menguap tanpa jejak.
Program Gaslah adalah bukti bahwa Pemkot Bandung mulai bergerak ke arah yang benar dengan mendekatkan solusi ke akar masalah. Namun, dukungan masyarakat yang muncul saat ini harus dilihat sebagai modal awal, bukan indikator final keberhasilan. Tantangan ke depan jauh lebih besar: bagaimana memastikan program ini berkelanjutan, merata, dan benar-benar mengubah perilaku, bukan sekadar memindahkan beban kerja dari warga ke petugas bergaji.
Jika tidak, Bandung Utama hanya akan meninggalkan warisan berupa kenangan manis tentang program yang pernah ada, tanpa pernah benar-benar menyelesaikan persoalan sampah yang telah mengakar. (**)