“Pendataan masih berlangsung karena laporan kehilangan dari keluarga belum sepenuhnya terverifikasi,” ujarnya.
Baca Juga : Kulit Garut Mau Go Global, Akademisi Datang Membawa Peta Mimpi
Gubernur Jakarta Pramono Anung menjelaskan longsor terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu sejumlah truk sedang mengantre untuk membongkar muatan sampah.
Tanpa peringatan, timbunan sampah yang menjulang tiba-tiba runtuh dan menimpa lima truk serta satu warung di sekitar lokasi.
Peristiwa terjadi di Zona 4 kawasan TPST Bantargebang. Longsoran bahkan menutup jalan operasional dan aliran Sungai Ciketing sepanjang sekitar 40 meter.
Hujan lebat yang berlangsung cukup lama disebut menjadi salah satu pemicu runtuhnya timbunan sampah yang sudah menumpuk puluhan meter itu.
Sebagai langkah sementara, pemerintah daerah menutup operasional Zona 4A dan mengurangi pengiriman sampah ke Bantargebang. Sebagian aktivitas dialihkan ke Zona 3 dan dua area baru yang sedang disiapkan.
Namun langkah itu lebih menyerupai menata ulang tumpukan masalah lama. Pasalnya, Jakarta setiap hari menghasilkan sekitar 7.400 hingga 8.000 ton sampah yang sebagian besar masih bergantung pada Bantargebang sebagai tempat pembuangan utama.