Selat Hormuz sendiri memiliki peran strategis bagi perekonomian global. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati jalur laut sempit tersebut setiap harinya.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu langsung berdampak pada pasar energi global.
Ketegangan yang terjadi memaksa Amerika Serikat bersama sejumlah sekutunya mengeluarkan cadangan minyak strategis hingga sekitar 400 juta barel guna menstabilkan pasar dan menekan lonjakan harga.
Saat ini harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate dilaporkan mendekati 98 dolar AS per barel, sementara Brent crude menembus kisaran 103 dolar AS per barel.
Sebelumnya Iran juga mengakui terlibat dalam sejumlah serangan terhadap kapal yang melintas di sekitar Selat Hormuz, termasuk sebuah kapal asal Thailand.
Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam menyatakan setiap kapal yang ingin melintas di jalur tersebut harus memperoleh izin dari Iran.
Situasi ini memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg apabila Teheran terus menghalangi lalu lintas kapal di selat tersebut.
Baca Juga : Rudal Bersahut, Sirene Menyaut: Episode Baru “Diplomasi Langit” Iran-Israel