Di tengah tekanan tersebut, Iran dilaporkan mempertimbangkan skema baru yang memungkinkan sejumlah kapal tanker melintas dengan syarat perdagangan minyak dilakukan menggunakan mata uang yuan milik China.
Skema ini dinilai sebagai upaya Iran mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan minyak internasional.
Selama ini sebagian besar transaksi minyak global dilakukan menggunakan dolar AS, kecuali dalam beberapa kasus seperti minyak Rusia yang diperdagangkan menggunakan rubel atau yuan akibat sanksi internasional.
Ketegangan di jalur energi utama dunia itu juga mendapat perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, memperingatkan bahwa gangguan terhadap arus kapal di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga dapat menghambat distribusi kebutuhan kemanusiaan.
Menurutnya, ketika jalur pelayaran tersebut terganggu, pengiriman makanan, obat-obatan, pupuk, dan berbagai kebutuhan penting lainnya akan menjadi lebih mahal dan sulit dilakukan.
Konflik yang memicu ketegangan ini disebut bermula setelah operasi militer gabungan oleh Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026.