[Locusonline.co] JAKARTA – Harga emas dunia mengalami kejatuhan dramatis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga emas mencatat pelemahan terburuk dalam lebih dari empat dekade.
Berdasarkan laporan CNN, harga emas dunia turun 11% dalam sepekan terakhir, menjadikannya kerugian mingguan terbesar sejak tahun 1983. Sementara jika dihitung sejak dimulainya konflik antara AS dan Iran, harga emas dunia telah merosot lebih dari 14% .
Paradoks: Emas Seharusnya Menguat di Tengah Ketidakpastian
Dalam teori investasi, emas dikenal sebagai aset safe haven (tempat berlindung aman) yang biasanya menguat saat terjadi ketegangan geopolitik, inflasi melonjak, atau mata uang jatuh. Lantas, mengapa kali ini emas justru melemah?
Jawabannya terletak pada dinamika kebijakan suku bunga dan penguatan dolar AS yang terjadi sebagai respons terhadap konflik tersebut.
Penyebab Utama Kejatuhan Emas
1. Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi
Kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah mendorong bank sentral global, termasuk The Fed, untuk mempertimbangkan kembali prospek suku bunga. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil tahun ini, tanpa penurunan lebih lanjut.
Berdasarkan data CME FedWatch, para pelaku pasar memproyeksikan tidak akan ada pemotongan suku bunga pada tahun 2026. Pada pertemuan FOMC sebelumnya, The Fed memang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Kondisi ini berbeda dengan periode sebelumnya, ketika harga emas sempat naik saat The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Suku bunga yang tinggi membuat imbal hasil obligasi (yield) menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.